This study examines the phrase “full of the Spirit” in the Book of Acts with the aim of understanding its complex theological meaning and applying its theological principles today. Although this phrase is often understood simply as an emotional experience, theological and exegetical analysis of the Greek text shows that its meaning includes empowerment to carry out missions and courage to witness, character necessary for ministry, endurance in the midst of suffering, and divine authority. This study also highlights the functional difference between the Greek terms pl?r?s (which indicates a continuous quality of character) and pl?th? (which refers to a temporal or temporary empowerment that occurs at a specific time for a specific purpose). The application of these principles today emphasizes the importance of the church prioritizing dependence on the Holy Spirit in carrying out its mission, making spiritual integrity the primary standard of leadership, relying on the power of the Holy Spirit in facing challenges, and carrying out the mission with divine authority. The novelty of this research lies in its comprehensive approach, which combines Greek language analysis with practical application, thereby challenging superficial views and offering a richer and more relevant theological understanding of the role of the Holy Spirit. Penelitian ini mengkaji frasa “penuh Roh” dalam Kitab Kisah Para Rasul dengan tujuan memahami makna teologisnya yang kompleks dan menerapkan prinsip-prinsip teologisnya pada masa kini. Meskipun frasa ini sering dipahami secara sederhana sebagai pengalaman emosional, analisis teologis dan eksegetis teks Yunani menunjukkan bahwa maknanya mencakup pemberdayaan untuk melaksanakan misi dan keberanian untuk bersaksi, karakter yang diperlukan untuk pelayanan, ketahanan di tengah penderitaan, dan otoritas ilahi. Penelitian ini juga menyoroti perbedaan fungsional antara istilah Yunani pl?r?s (yang menunjukkan kualitas karakter yang berkelanjutan) dan pl?th? (yang merujuk pada pemberdayaan yang bersifat temporal atau sementara yang terjadi pada saat tertentu untuk tujuan tertentu). Penerapan prinsip-prinsip ini pada masa kini menekankan pentingnya gereja memprioritaskan ketergantungan pada Roh Kudus dalam melaksanakan misi, menjadikan integritas rohani sebagai standar utama kepemimpinan, bergantung pada kuasa Roh Kudus dalam menghadapi tantangan, dan melaksanakan misi dengan otoritas ilahi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan komprehensifnya, yang menggabungkan analisis bahasa Yunani dengan penerapan praktis, sehingga menantang pandangan yang dangkal dan menawarkan pemahaman teologis yang lebih kaya dan relevan tentang peran Roh Kudus