Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Korelasi Kadar Glukosa Darah Puasa dengan Albuminuria sebagai Prediktor Penyakit Ginjal Diabetik pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2: Literature Review Rizky Sabrina
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2026): February : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i1.1015

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat dan berkontribusi terhadap berbagai komplikasi kronik, salah satunya penyakit ginjal diabetik. Hiperglikemia kronis berperan penting dalam terjadinya kerusakan ginjal melalui berbagai mekanisme metabolik, hemodinamik, inflamasi, dan fibrotik yang menyebabkan peningkatan ekskresi albumin urin atau albuminuria. Albuminuria dikenal sebagai penanda awal gangguan ginjal dan prediktor progresivitas penyakit ginjal diabetik. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hubungan antara kadar glukosa darah puasa dengan albuminuria pada pasien diabetes melitus tipe 2 melalui pendekatan literature review. Pencarian literatur dilakukan pada basis data PubMed, ScienceDirect, dan Scopus terhadap artikel berbahasa Inggris yang dipublikasikan pada periode 2020 hingga 2025. Dari 521 artikel yang teridentifikasi, sebanyak 12 penelitian dengan kualitas metodologi terbaik dianalisis secara mendalam. Hasil sintesis menunjukkan adanya hubungan yang konsisten dan signifikan antara peningkatan kadar glukosa darah puasa dengan albuminuria pada berbagai desain penelitian. Kadar glukosa darah puasa yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan risiko mikroalbuminuria hingga makroalbuminuria serta progresi penyakit ginjal diabetik. Temuan ini menegaskan bahwa glukosa darah puasa merupakan parameter penting dalam deteksi dini gangguan ginjal. Oleh karena itu, pemantauan glukosa darah puasa yang dikombinasikan dengan pemeriksaan urine albumin to creatinine ratio perlu dioptimalkan dalam praktik klinis untuk mencegah progresi penyakit ginjal diabetik pada pasien diabetes melitus tipe 2.