AbstrakProduksi jahe di Kota Serang mengalami fluktuasi besar dengan produktivitas rendah dan lahan sempit, sehingga meningkatkan risiko produksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produksi dan risiko produksi jahe, serta mengidentifikasi tingkat risikonya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan data primer dan sekunder. Sampel sebanyak 30 petani ditentukan melalui simple random sampling dan rumus Slovin. Model Just dan Pope digunakan untuk analisis risiko, sedangkan koefisien variasi (CV) digunakan untuk mengukur tingkat risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel luas lahan dan bibit berpengaruh signifikan terhadap produksi, baik secara simultan maupun parsial. Namun, tidak ada variabel yang berpengaruh signifikan terhadap risiko produksi pada taraf nyata 5%, meskipun luas lahan berpengaruh signifikan pada taraf 10%. Bibit dan pupuk dapat menurunkan risiko, sedangkan luas lahan dan tenaga kerja cenderung meningkatkan atau tidak berpengaruh. Nilai CV sebesar 0,1865 menunjukkan bahwa risiko produksi secara umum tergolong rendah, tetapi sebagian besar petani tetap menghadapi risiko sedang hingga tinggi, yang dapat menyebabkan ketidakpastian hasil panen.Kata kunci: Jahe, Kota Serang, Model Just and Pope, Risiko Produksi.AbstractGinger production in Serang City experienced considerable fluctuations, accompanied by low productivity and relatively small land sizes, which increased the production risks faced by farmers. This study aimed to analyze the factors influencing ginger production and its associated risks, as well as to identify the level of production risk. A descriptive quantitative approach was applied using both primary and secondary data. Thirty ginger farmers were selected using simple random sampling and the Slovin formula. The Just and Pope production risk model was employed to analyze risk factors, while the coefficient of variation (CV) was used to measure the level of production risk.The results showed that land area and seed variables significantly affected ginger production, both jointly and individually. However, none of the production variables significantly influenced production risk at the 5% significance level, although land area had a significant effect at the 10% level. Seeds and fertilizers were identified as risk-reducing factors, while land area and labor tended to increase or had no significant effect on risk. A CV value of 0.1865 indicated that ginger farming in Serang City was generally categorized as low risk. Nevertheless, most farmers faced moderate to high levels of production risk, leading to potential uncertainty in harvest outcomes.Keywords: Ginger, Just and Pope Model, Production Risk, Serang City.