Kerokan merupakan salah satu terapi komplementer yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa, termasuk di Desa Pacul, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Meskipun dipercaya dapat meredakan keluhan kesehatan ringan, praktik kerokan umumnya dilakukan tanpa pemahaman medis yang memadai sehingga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai manfaat dan bahaya kerokan berbasis ilmu medis melalui pelatihan yang terstruktur dan aplikatif. Metode program menggunakan pendekatan edukatif partisipatoris dengan melibatkan 68 warga yang terbiasa melakukan kerokan. Kegiatan meliputi pengukuran tingkat pengetahuan awal menggunakan kuesioner, pemberian materi edukasi tentang prinsip medis kerokan dan teknik yang aman, serta pengukuran ulang tingkat pengetahuan setelah pelatihan. Analisis perubahan pengetahuan peserta dilakukan menggunakan uji Marginal Homogeneity. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah pelatihan dengan nilai p 0,015 (p < 0,05). Proporsi peserta dengan tingkat pengetahuan baik atau memadai meningkat dari 48% sebelum intervensi menjadi 76%. Peningkatan pengetahuan terjadi pada seluruh kelompok profesi, termasuk ibu rumah tangga, pekerja swasta, PNS, petani, Polisi, dan TNI, dengan capaian akhir di atas 65%. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis ilmu kesehatan efektif meningkatkan literasi masyarakat serta mendukung praktik terapi komplementer yang lebih aman dan rasional melalui integrasi kearifan lokal dan prinsip medis.