Abstract - This study aims to analyze how the reception of the government's role is formed through the #SaveRajaAmpat campaign by Greenpeace Indonesia media, especially from the perspective of environmental enthusiasts. The campaign highlights the impact of environmental damage caused by nickel mining activities in the Raja Ampat conservation area, Papua. The study uses a qualitative approach with a case study method. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews with environmental enthusiasts who actively follow Greenpeace Indonesia's campaign content on various social media platforms, as well as observations of the campaign content. Stuart Hall's reception theory was used to analyze the process of media message interpretation by the audience. The results show that the informants are in a hegemonic position, namely fully accepting the narrative constructed by Greenpeace Indonesia regarding environmental damage and government responsibility. The informants view the government as the main actor in granting mining permits in conservation areas and assess the revocation of permits carried out only as a response to digital public pressure, not as a form of commitment to protecting the environment. The narrative conveyed by Greenpeace is considered credible, based on open research data delivered with critical emotional audio and visuals, and without commercial interests. These findings show that the media plays a major role in shaping public opinion, ecological awareness and show how audiences actively and critically interpret media messages even when they support the dominant narrative.Keywords: Greenpeace Indonesia; #SaveRajaAmpat; Environmental; Enthusiast; Government Reception Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana resepsi terhadap peran pemerintah dibentuk melalui kampanye #SaveRajaAmpat oleh media Greenpeace Indonesia, khususnya dari sudut pandang environmental enthusiast. Kampanye tersebut menyoroti dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan nikel di wilayah konservasi Raja Ampat, Papua. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap environmental enthusiast yang aktif mengikuti konten kampanye Greenpeace Indonesia di berbagai platform media sosial, serta observasi terhadap konten kampanye tersebut. Teori resepsi Stuart Hall digunakan untuk menganalisis proses pemaknaan pesan media oleh audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan berada pada posisi terhegemoni, yaitu menerima sepenuhnya narasi yang dibangun Greenpeace Indonesia mengenai kerusakan lingkungan dan tanggung jawab pemerintah. Para informan memandang pemerintah sebagai aktor utama dalam pemberian izin tambang di wilayah konservasi dan menilai tindakan pencabutan izin yang dilakukan hanya sebagai respons terhadap tekanan publik secara digital, bukan sebagai bentuk komitmen untuk menjaga lingkungan. Narasi yang disampaikan Greenpeace dianggap kredibel, berbasis data riset terbuka disampaikan dengan audio dan visual yang kritis emosional, serta tanpa kepentingan komersial. Temuan ini menunjukkan bahwa media berperan besar dalam membentuk opini publik, kesadaran ekologis dan memperlihatkan bagaimana khalayak secara aktif dan kritis memaknai pesan media meskipun mendukung narasi dominan. Kata kunci: Greenpeace Indonesia; #SaveRajaAmpat; Lingkungan; Antusias; Resepsi Pemerintah