Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Narasi Moderasi Beragama dalam Naskah Serat Carub Kandha Agus Iswanto; Nurhata; Asep Saefullah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.83 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i1.910

Abstract

A number of traditional historiographies are narrated in manuscripts from Cirebon, not a few that mention religious moderation. However, the babad manuscripts tend to change their perspective when it enters the Colonialism era. The narrative of tolerance between ethnic groups or between religions was experiencing serious friction. There is a manuscript that comes from the Cirebon tradition, which narrates implicitly about religious moderation in the early eras of the development of Islam and the port cities, namely Serat Carub Kandha. This article discusses three issues related to religious moderation in Serat Carub Kandha, namely: (1) the context behind the writing and copying of the Serat Carub Kandha manuscript; (2) the narrative of religious moderation in the Serat Carub Kandha; (3) Its relevance for current religious life in Indonesia. The source that was used as the primary material for the research was the Serat Carub Kandha manuscript, the collection of Rafan Hasyim in Cirebon, written by Pegon. With a philological and hermeneutic approach, this article shows that the Serat Carub Kandha manuscript is historical evidence and collective memory of the practice of religious moderation in Indonesia's past, especially on the north coast of West Java. The moderation narrative that has emerged is about respecting other religions, accommodating local culture, and anti-violence. Keywords: Babad manuscripts, Cirebon, religious moderation, Serat Carub Kandha   Sejumlah historiografi tradisional yang dinarasikan dalam naskah-naskah (manuscripts) asal Cirebon, tidak sedikit yang menyinggung tentang moderasi beragama. Namun demikian, kecenderungan naskah babad mengalami pergeseran perspektif ketika memasuki era kolonialisme bangsa-bangsa Eropa. Narasi toleransi antar suku bangsa atau antar agama mengalami gesekan serius. Terdapat sebuah naskah yang berasal dari tradisi Cirebon, yang menarasikan secara implisit tentang moderasi beragama pada era-era awal perkembangan Islam dan kota-kota pelabuhan, yaitu Serat Carub Kandha. Artikel ini membahas tiga masalah terkait dengan moderasi beragama dalam Serat Carub Kandha, yakni: (1) konteks yang melatari penulisan dan penyalinan naskah Serat Carub Kandha; (2) narasi moderasi beragama dalam naskah Serat Carub Kandha; (3) Relevansinya bagi kehidupan beragama saat ini di Indonesia. Sumber yang dijadikan bahan primer penelitian adalah naskah Serat Carub Kandha koleksi Rafan Hasyim di Cirebon dalam tulisan Pegon. Dengan pendekatan filologis dan hermenutik, artikel ini menunjukkan bahwa Naskah Serat Carub Kandha menjadi bukti historis dan memori kolektif tentang praktik moderasi beragama di masa lalu Indonesia, khususnya di kawasan pesisir utara Jawa Barat. Narasi moderasi yang mengemuka adalah tentang sikap menghargai agama lain, akomodatif terhadap kebudayaan lokal, dan anti kekerasan.   Kata kunci: Cirebon, manuskrip Babad, moderasi beragama, Serat Carub Kandha
BABAD DARMAYU: PEMBERONTAKAN BAGUS RANGIN DI INDRAMAYU PADA AWAL ABAD KE-19 NURHATA
Sinau : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora Vol. 1 No. 01 (2015): Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora
Publisher : LPPM STKIP Pangeran Dharma Kusuma Segeran Juntinyuat Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37842/sinau.v1i01.8

Abstract

Dengan mendasarkan pada naskah Babad Darmayu, artikel ini berusaha menguraikan sejarah pemberontakan Bagus Rangin di Indramayu pada awal abad ke-19. Konflik intern di tubuh keluarga dalem (bupati) Indramayu, yang melibatkan pemerintah Hindia Belanda menjadi titik awal bagi intervensi langsung Batavia atas Indramayu. Pada saat yang bersamaan, pemberontakan meletup di berbagai tempat. Penyebabnya adalah penjualan tanah penduduk kepada orang Cina. Kehadiran tentara Batavia di Indramayu hanya memperbesar aksi massa pemberontakan, alih-alih meredam. Bagus Rangin memegang peranan penting dalam melancarkan gerakan itu. Pasukan Dalem Raden Semangun Singalodraka tidak sanggup menghentikan amuk massa pemberontak yang terus membesar. Pemberontakan baru berhenti setelah tentara Hindia Belanda, pasukan dalem Indramayu, dan orang Cina bergabung melakukan penumpasan.
ANALISIS ALIH KODE PADA LIRIK LAGU-LAGU TARLING Sri Wulandari; Nurhata
Sinau : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora
Publisher : LPPM STKIP Pangeran Dharma Kusuma Segeran Juntinyuat Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37842/sinau.v9i2.183

Abstract

Penelitian ini Mendeskripsikan fenomena alih kode yang muncul pada lirik lagu-lagu tarling. Lagu tarling merupakan lagu berbahasa daerah Jawa dialek Cirebon. Berdasarkan data yang digunakan, lirik lagu-lagu tarling terindikasi telah mengalami alih kode dari bahasa Jawa dialek Cirebon (BJC) ke bahasa Indonesia (BI) atau bahkan bahasa Inggris (BIng). Lebih jauh lagi, data yang digunakan adalah sejumlah 20 lagu tarling yang berasal dari tahun 2023, 2022, dan 2021. Dari 20 lagu tersebut, diperoleh 91 data yang digunakan sebagai database penelitian alih kode. Karena penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis alih kode yang terjadi pada lagu-lagu tarling terkini dan untuk melihat seberapa besar persentasi jenis alih kode tersebut, metode penelitian kombinasi diterapkan pada penelitian ini. Hasilnya, fenomena alih kode sangat signifikan terjadi pada level kata (66%) dan fenomena tersebut dapat dikategorisasikan ke dalam jenis alih kode inter-sentential (89%). Adapun bahasa lain yang dominan dalam proses alih kode dari bahasa daerah ini adalah bahasa Indonesia, yaitu sebesar (70%).