The Agribussines sector plays a crucial role in the Indonesian economy, significantly contributing to GDP and comodity exports, However this sector faces challenges such as price fluctuations, trade policies, and environmental issues. This study aims to analyze the effect of Return on Assets (ROA) and Debt to Equity Ratio (DER) on firm value as measured by Price to Book Value (PBV) in 25 agribusiness companies listed on the Indonesia Stock Exchange during 2020-2023. Multiple linear regression with classical assumption testing was employed to ensure model validity. The result show that simultaneously ROA and DER significantly effect PBV ( F-statistic 11.395: p < 0.05) with a contribution of 20.4%. Partially, DER has a positive and significant effect (t = 4.744: p < 0,05), while ROA has no significant effect (t= 0.816: p > 0.05). These findings indicate that capital structure has a stronge influence on market perception compared to profitability in determining the firm value of agribusiness companies. ABSTRAK Sektor agribisnis memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia dengan kontribusi signifikan terhadap PDB dan ekspor komoditas utama. Namun, sektor ini menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga, kebijakan perdagangan, dan isu lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Return on Assets (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap nilai perusahaan yang diukur dengan Price to Book Value (PBV) pada 25 perusahaan agribisnis yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020–2023. Metode penelitian menggunakan regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik untuk memastikan validitas model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan ROA dan DER berpengaruh signifikan terhadap PBV (F-hitung 11,395; p < 0,05) dengan kontribusi sebesar 20,4%. Secara parsial, DER berpengaruh positif signifikan (t = 4,744; p < 0,05), sementara ROA tidak berpengaruh signifikan (t = 0,817; p > 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa struktur modal lebih memengaruhi persepsi pasar dibanding profitabilitas dalam menentukan nilai perusahaan sektor agribisnis.