This article is motivated by the use of the words nūr, ḍiyā', and sirāj which are often translated as "light". Although all three have similar basic meanings, each word is used in a different context, raising the question of whether these words are synonymous or have significant differences in meaning. The purpose of this research is to try to uncover the meaning and synonyms of each word by analyzing it through the Tafsir Al-Kasysyāf approach by al-Zamakhsyarī. This research uses a qualitative method with a library research approach. The analysis was carried out using a semantic approach, which focuses on the relationship of meaning between words and the context in which they are used in the verses of the Qur'an. The results of the analysis show that the three terms have a basic meaning as "light", but there are differences in their use. The word nūr refers more to light that is soft and reflective, such as the light of the moon or the light of Allah's guidance that is spiritual. While the word ḍiyā' describes a more intense light and has a hot element, such as sunlight that shines strongly and burns. Meanwhile, the word sirāj refers to a source of light that emits its own rays, such as the sun itself which is referred to as sirāj in the Qur'an. Artikel ini dilatarbelakangi dengan adanya penggunaan kata-kata nūr, ḍiyā’, dan sirāj yang sering diterjemahkan dengan istilah “cahaya”. Meskipun ketiganya mempunyai makna dasar serupa, namun setiap kata digunakan dalam konteks yang berbeda, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah kata-kata ini memiliki sinonim atau justru memiliki perbedaan makna yang signifikan. Adapun tujuan dari penelitian ini berusaha mengungkap makna dan sinonim masing-masing kata tersebut dengan menganalisisnya melalui pendekatan Tafsir Al-Kasysyāf karya al-Zamakhsyarī. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan semantik, yang berfokus pada relasi makna antar kata serta konteks penggunaannya dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga istilah tersebut memiliki arti dasar sebagai “cahaya”, namun terdapat perbedaan dalam penggunaannya. Kata nūr lebih mengarah pada cahaya yang bersifat lembut dan pantulan, seperti cahaya bulan atau cahaya petunjuk Allah yang bersifat spiritual. Sedangkan kata ḍiyā’ menggambarkan cahaya yang lebih intens dan memiliki unsur panas, seperti cahaya matahari yang bersinar kuat dan membakar. Sementara itu, kata sirāj merujuk pada sumber cahaya yang memancarkan sinarnya sendiri, seperti matahari itu sendiri yang disebut sebagai sirāj dalam Al-Qur’an.