Marriage in a social and religious context is often considered sacred and capable of bringing happiness to couples. However, in today's digital age, a new narrative known as Marriage Is Scary has emerged on social media, voicing fears about marriage. The method used in this study is a descriptive qualitative method with a library research approach. The primary data for this study is limited to online media related to the Marriage Is Scary trend, namely Media Santri Nu and Tempo.co. Meanwhile, the secondary data for this study is sourced from related literature. In analyzing the data, this study uses Robert M. Entman's framing analysis approach. The results of this study show that the Marriage Is Scary trend tends to focus on the negative aspects of marriage without offering balanced solutions. Several key factors that trigger fear of marriage in this trend include trauma from bad experiences, economic instability, and changes in social values that prioritize individualism. However, in Islam, marriage is not merely a social relationship, but also a form of worship and sunnah of the Prophet, as emphasized in QS. Ar-Rūm: 21. Pernikahan dalam konteks sosial dan agama sering dianggap sebagai sesuatu yang suci yang dapat mendatangkan kebahagiaan bagi pasangan. Namun, di era digital saat ini, muncul narasi baru yang dikenal dengan istilah Marriage Is Scary di media sosial yang menyuarakan ketakutan terhadap pernikahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data primer dari penelitian ini terbatas pada media online yang berkaitan dengan tren Marriage Is Scary, yaitu Media Santri Nu dan Tempo.co. Sedangkan data sekunder dari penelitian ini bersumber dari literatur-literatur yang terkait. Dalam menganalisis data, penelitian ini menggunakan pendekatan analisis framing Robert M. Entman. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tren Marriage is Scary cenderung memfokuskan pada aspek negatif pernikahan tanpa menawarkan solusi yang seimbang. Beberapa faktor utama yang memicu ketakutan terhadap pernikahan dalam tren ini meliputi trauma dari pengalaman buruk, ketidakstabilan ekonomi, serta perubahan nilai sosial yang lebih mengedepankan individualisme. Namun, dalam pandangan Islam, pernikahan bukan sekadar hubungan sosial, melainkan juga sebuah ibadah dan sunnah Rasulullah, seperti yang ditegaskan dalam QS. Ar-Rūm: 21