Penelitian ini mengkaji komunikasi interpersonal sebagai mekanisme koping penderita gangguan bipolar dalam menjaga stabilitas emosi melalui studi kasus pada Maya Fasila. Gangguan bipolar ditandai oleh perubahan suasana hati yang ekstrem sehingga memengaruhi regulasi emosi, interaksi sosial, dan fungsi kehidupan sehari-hari. Dalam konteks tersebut, komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana interaksi, tetapi juga sebagai strategi koping psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman Maya Fasila sebagai penderita bipolar, mengidentifikasi bentuk komunikasi interpersonal yang digunakan sebagai mekanisme koping, serta menganalisis tantangan komunikasi yang muncul akibat kondisi bipolar.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi, termasuk narasi pribadi dan media sosial. Analisis data didasarkan pada teori komunikasi interpersonal Joseph A. DeVito dan teori koping Lazarus dan Folkman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal berperan penting sebagai strategi koping dalam menghadapi tekanan emosional. Melalui komunikasi terbuka dengan keluarga, teman dekat, dan lingkungan sosial yang dipercaya, Maya Fasila mampu mengekspresikan perasaan, memperoleh validasi emosional, serta memaknai kembali pengalaman stres secara lebih adaptif. Komunikasi tatap muka dan komunikasi melalui media digital seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok membantu meningkatkan kesadaran emosi, dukungan sosial, dan stabilitas emosi. Meskipun terdapat hambatan berupa stigma dan kesalahpahaman, komunikasi yang efektif berkontribusi positif terhadap stabilitas emosi dan proses pemulihan penderita bipolar.