Penerapan model kerja hybrid dan remote telah menjadi praktik yang semakin umum seiring dengan percepatan transformasi digital, namun kondisi ini turut menghadirkan tantangan serius terhadap keamanan komunikasi organisasi. Hilangnya batas fisik jaringan, meningkatnya penggunaan perangkat pribadi, serta ketergantungan pada platform komunikasi digital menuntut pendekatan manajemen sekuriti yang lebih adaptif dan terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko keamanan komunikasi dalam lingkungan kerja hybrid dan remote, khususnya yang berkaitan dengan penggunaan perangkat pribadi, konektivitas jaringan, serta mekanisme pengawasan aktivitas komunikasi. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah yang relevan mengenai manajemen keamanan, kebijakan perangkat pribadi, arsitektur jaringan aman, serta praktik monitoring komunikasi digital. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa penggunaan perangkat pribadi meningkatkan potensi kebocoran data apabila tidak disertai kebijakan dan pengendalian yang memadai, sementara penerapan teknologi jaringan aman mampu memperkuat perlindungan data dalam komunikasi jarak jauh. Selain itu, monitoring dan pencatatan aktivitas komunikasi berperan penting dalam mendukung akuntabilitas dan deteksi dini ancaman keamanan, asalkan diterapkan secara transparan dan berimbang dengan perlindungan privasi. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa keamanan komunikasi di lingkungan kerja hybrid dan remote memerlukan integrasi antara kebijakan organisasi, teknologi keamanan, dan kesadaran etis sumber daya manusia untuk menciptakan sistem keamanan yang berkelanjutan dan terpercaya.