Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tafsir Maudhu'i Tentang Moderasi Beragama Dalam Era Media Sosial: Kajian Atas Ayat-Ayat Etika Komunikasi Dalam Al-Qur'an Muhammad Hotibul Umam; Mohamad Hambali; Muhammad Fahrul Ihsan
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2025): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Amidst the flood of information on social media, which is rife with challenges such as disinformation, hate speech, and extremism, the need for a solid ethical foundation for communication is crucial to maintaining religious moderation (wasathiyyah). This study examines the ethics of communication in the Qur'an as a theological foundation for moderation in the digital space. Using the maudhu'i (thematic) interpretation method with a library research approach, verses from the Qur'an related to the ethics of communication were compiled and analyzed comprehensively. The results of the discussion show that the Qur'an offers a complete ethical system, which requires tabayyun (verification) and the delivery of qaul sadid (truthful speech). Thematic analysis of the concepts of qaul ma'rūf (good speech), qaul layyin (gentle speech), and the prohibition of ghibah and su'u al-zhan (bad assumptions) confirms that moderation in speech is an intrinsic value in Islam. In conclusion, the internalization of Qur'anic communication ethics not only serves as a moral guide but also as a vital epistemological instrument to stem radical narratives and achieve harmony in the digital age. Keywords: Tafsir Maudhu'i, Religious Moderation, Social Media, Communication Ethics, Al-Qur'an   Abstrak Di tengah arus informasi media sosial yang sarat dengan tantangan disinformasi, ujaran kebencian, dan ekstremisme, kebutuhan akan landasan etika komunikasi yang kokoh menjadi krusial untuk menjaga moderasi beragama (wasathiyyah). Penelitian ini mengkaji etika komunikasi dalam Al-Qur'an sebagai fondasi teologis untuk moderasi di ruang digital. Menggunakan metode tafsir maudhu'i (tematik) dengan pendekatan studi pustaka (library research), ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan etika komunikasi dihimpun dan dianalisis secara komprehensif. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Al-Qur'an menawarkan sebuah sistem etika yang utuh, yang menuntut adanya tabayyun (verifikasi) dan penyampaian qaul sadid (perkataan yang benar). Analisis tematik pada konsep qaul ma'rūf (perkataan baik), qaul layyin (lemah lembut), serta larangan ghibah dan su'u al-zhan (prasangka buruk) menegaskan bahwa moderasi dalam bertutur adalah nilai intrinsik dalam Islam. Kesimpulannya, internalisasi etika komunikasi Qur'ani ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan moral, tetapi juga sebagai instrumen epistemologis yang vital untuk membendung narasi radikal dan mewujudkan harmoni di era digital. Kata Kunci: Tafsir Maudhu'i, Moderasi Beragama, Media Sosial, Etika Komunikasi, Al-Qur'an
Hadist Tematik Ilmu Ghaib Mohamad Hambali; Muhammad Alif
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2025): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the structure of Islamic belief, the understanding of the unseen (al-ghayb) plays a crucial role as a divider between the absolute power of God and the limitations of His creatures. Nevertheless, social phenomena showing reliance on future predictions and occult practices indicate the existence of theological confusion within society. This study aims to re-map the parameters of the validity of knowledge about the unseen by applying a thematic (maudhu’i) approach to hadith literature. The primary data sources focus on authoritative narrations in Sahih al-Bukhari and Sahih Muslim that discuss the demarcation between divine and worldly knowledge.The examination of these hadith texts reveals three fundamental principles. First, the aspect of divine exclusivity: the five keys to the unseen (such as the time of death and the Day of Judgment) are a closed domain inaccessible to anyone except Allah. Second, the prophetic boundary: it affirms that the Prophet Muhammad’s knowledge of the unseen is not an inherent capability, but rather derivative information granted through revelation as proof of prophethood. Third, the mechanism of faith protection: Islam closes the door to polytheism by prohibiting astrology and sorcery, and by defining fortune-telling as distorted information stolen by jinn entities.In conclusion, the validity of a believer’s faith is measured by their rejection of mystical speculation and their total submission to the authority of revelation in responding to future mysteries. Keywords: Islamic Theology, Thematic Hadith, Limits of Revelation, The Unseen, Monotheism.   Abstrak Dalam struktur keyakinan Islam, pemahaman mengenai entitas yang tak terindra (al-ghayb) memegang peranan krusial sebagai pemisah antara kekuasaan mutlak Tuhan dan keterbatasan makhluk. Kendati demikian, fenomena sosial yang menunjukkan ketergantungan pada ramalan masa depan dan praktik klenik mengindikasikan adanya kerancuan pemahaman akidah di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kembali parameter validitas pengetahuan ghaib dengan menerapkan metode tematik (maudhu’i) pada literatur hadis. Sumber data primer difokuskan pada riwayat-riwayat otoritatif dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang membahas demarkasi pengetahuan langit dan bumi.Hasil penelusuran terhadap teks-teks hadis menemukan tiga prinsip fundamental. Pertama, aspek eksklusivitas ketuhanan: di mana lima kunci rahasia ghaib (seperti waktu kematian dan kiamat) adalah domain tertutup yang tidak terjangkau oleh siapa pun selain Allah. Kedua, batasan kenabian: yang menegaskan bahwa pengetahuan Rasulullah SAW mengenai hal ghaib bukanlah kemampuan inheren, melainkan informasi derivatif yang bersumber dari wahyu sebagai bukti kerasulan. Ketiga, mekanisme perlindungan iman: Islam menutup celah kesyirikan dengan mengharamkan astrologi dan perdukunan, serta mendefinisikan ramalan sebagai distorsi informasi yang dicuri oleh entitas jin. Kesimpulannya, validitas iman seorang mukmin diukur dari penolakannya terhadap spekulasi mistis dan kepasrahannya total pada otoritas wahyu dalam menyikapi misteri masa depan. Kata kunci: Teologi Islam, Hadis Tematik, Batasan Wahyu, Kegaiban, Tauhid.