Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Integrasi Akal, Qalb, dan Nafs dalam Psikologi Kognitif Islam: Kerangka Konseptual dan Relevansinya bagi Kesehatan Mental Kontemporer Akbar, Ahmad Asyaifuddin; Ibrahim; Siti Halimatussa’adah; Salmaini Yeli
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3027

Abstract

Psikologi kognitif Islam memandang manusia sebagai kesatuan integratif antara akal, qalb, dan nafs, yang berbeda dari pendekatan kognitif modern yang cenderung menekankan rasionalitas semata. Namun, kerangka konseptual mengenai hubungan ketiga unsur ini dan relevansinya terhadap kesehatan mental masih memerlukan penegasan akademik. Penelitian ini bertujuan merumuskan model konseptual integrasi akal, qalb, dan nafs dalam psikologi kognitif Islam serta menjelaskan kontribusinya bagi pemahaman kesehatan mental kontemporer. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan analisis konseptual terhadap sumber-sumber Al-Qur’an, hadis, dan literatur psikologi Islam klasik maupun modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa akal berfungsi sebagai instrumen berpikir dan penilai logis, qalb sebagai pusat kesadaran moral-spiritual dan kepekaan makna, sedangkan nafs merepresentasikan dorongan, emosi, dan dinamika diri yang dapat bergerak menuju kebaikan atau penyimpangan. Integrasi ketiganya membentuk proses kognitif holistik yang memengaruhi persepsi, pengambilan keputusan, dan regulasi emosi. Model ini menegaskan bahwa gangguan mental dapat dipahami sebagai ketidakseimbangan relasi akal-qalb-nafs, sehingga pemulihan perlu mencakup intervensi kognitif sekaligus psikospiritual. Dengan demikian, psikologi kognitif Islam menawarkan fondasi teoritik bagi pengembangan pendekatan kesehatan mental yang lebih utuh dan kontekstual bagi masyarakat Muslim.
The Epistemology of Islamic Thought as an Islamic Epistemic Trident in Confronting the Post-Truth Crisis in the Digital Era Akbar, Ahmad Asyaifuddin; Dewi, Eva; Saputra, Mhd Aidil
Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 23 No. 2 (2026): Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan (AJAIP)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/ajaip.2026.vol23(2).28799

Abstract

This research begins with the post-truth phenomenon in the digital era in shaping public opinion. This phenomenon has triggered a systemic epistemic crisis that threatens the foundations of Islamic knowledge, particularly through the spread of hoaxes, disinformation, filter bubbles, and echo chambers that are rampant on social media platforms. Amid this crisis, the Islamic scientific tradition has a highly relevant epistemological legacy, namely three main paradigms categorized by Muhammad Abed Al-Jabiri: Bayānī (epistemology based on text and revelation), Burhānī (epistemology based on reason and demonstrative logic), and ʿIrfānī (epistemology based on intuition and inner enlightenment). This study aims to identify the characteristics of each epistemology as an integrative knowledge verification system, analyze the manifestation of the post-truth crisis in the digital era from the perspective of Islamic epistemology and the epistemic vulnerabilities it exploits, and build an integrated model of the Bayānī-Burhānī-ʿIrfānī epistemic trident as a synergistic alternative framework to overcome the post-truth crisis. This study uses a qualitative approach with library research accompanied by descriptive, critical, and integrative-constructive philosophical-epistemological analysis. The findings show that the three epistemologies synergistically form a layered verification system: Bayānī as a normative-textual guardian through the principle of tabayyun, Burhānī as an instrument of critical rationality through logical-empirical testing, and ʿIrfānī as an ethical-spiritual filter through inner clarity. Their integration produces an epistemic trident model capable of responding to the post-truth crisis in a holistic, proactive, and values-based manner, going beyond a purely technical approach.