Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi pendorong utama perubahan dalam sistem pendidikan di Indonesia, seiring tuntutan peningkatan efektivitas pembelajaran dan upaya menjawab permasalahan capaian akademik, termasuk rendahnya skor PISA pada periode sebelumnya. Implementasi teknologi ini—termasuk penggunaan ChatGPT memunculkan dua sisi yang saling berlawanan, yakni peluang besar dalam pengembangan kompetensi tertentu dan ancaman serius terhadap kemampuan kognitif dasar peserta didik. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara komprehensif temuan empiris lintas jenjang pendidikan mengenai efektivitas AI sebagai sarana pembelajaran sekaligus dampaknya terhadap kemampuan berpikir kritis dan integritas akademik. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis dengan mengintegrasikan hasil penelitian kuasi-eksperimental kuantitatif, analisis regresi linier, serta survei deskriptif yang melibatkan siswa MA, SMA, SMK, dan mahasiswa perguruan tinggi. Temuan menunjukkan bahwa penerapan AI secara terstruktur, khususnya yang dikombinasikan dengan nilai-nilai Islami, terbukti memberikan peningkatan signifikan pada kemampuan pemecahan masalah matematika. Namun demikian, penelitian lain mengungkap bahwa tingginya intensitas penggunaan ChatGPT berpengaruh negatif secara kuat dan signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa, sejalan dengan konsep Cognitive Offloading. Meskipun tingkat keterlibatan belajar siswa meningkat, hasil survei juga mengindikasikan minimnya kesadaran etika penggunaan serta potensi ketergantungan terhadap AI. Oleh karena itu, keberhasilan integrasi AI dalam pendidikan sangat ditentukan oleh pengelolaan pedagogis yang terarah serta kebijakan yang menekankan penguatan Literasi AI Kritis guna menjaga kemandirian intelektual peserta didik.