Menstruasi merupakan tanda vital kesehatan reproduksi wanita usia produktif. Namun, gangguan siklus menstruasi beberapa tahun terakhir telah menjadi isu yang cukup memprihatinkan pada wanita usia produktif, terutama pada kelompok remaja dan mahasiswa. Salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap keteraturan siklus menstruasi adalah status gizi, yang seringkali berubah pada mahasiswi akibat stres akademik dan gaya hidup. Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan indikator status gizi yang mencerminkan proporsi lemak tubuh. Ketidakseimbangan status gizi, baik kekurangan maupun kelebihan berat badan dapat menyebabkan gangguan hormonal yang berujung pada ketidakteraturan siklus menstruasi. Analisis literatur diperlukan untuk mengkaji variasi temuan studi mengenai hubungan ini. Menganalisis dan mengkaji hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan siklus menstruasi pada mahasiswi melalui tinjauan literatur. Penelitian ini menggunakan pendekatan literature review. Penelusuran artikel dilakukan melalui basis data elektronik spserti Google Scholar, PubMed, dan ScientDirect menggunakan kata kunci spesifik (“indeks massa tubuh”, “IMT”, “body mass index”, “BMI”, “siklus menstruasi”, “menstrual cycle”, “mahasiswi”, “college student”). Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah literatur yang membahas IMT dan siklus menstruasi pada mahasiswi, memiliki desain yang relevan, dan diterbitkan antara antara tahun 2020 hingga 2025. Kemudian, data dari literatur terpilih dianalisis dengan membandingkan masing-masing temuan. Tinjauan terhadap delapan penelitian yang relevan menunjukan bahwa mayoritas (enam dari delapan) studi melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara IMT dengan keteraturan siklus menstruasi pada mahasiswi. Gangguan siklus menstruasi lebih sering ditemukan pada mahasiswi dengan IMT tidak normal (kurang atau berlebih) dibandingkan dengan IMT normal. Indeks Massa Tubuh (IMT) berperan penting dalam keteraturan siklus menstruasi pada mahasiswi melalui pengaruhnya terhadap keseimbangan hormonal, namun bukan merupakan satu-satunya faktor penentu.