Perubahan iklim menjadi tantangan global yang memberikan dampak signifikan terhadap ketahanan pangan nasional, terutama melalui penurunan produktivitas pertanian dan fluktuasi harga pangan. Fenomena peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan intensitas bencana alam berdampak langsung pada produktivitas lahan dan hasil panen komoditas utama seperti padi, jagung, dan kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perubahan iklim terhadap produksi dan harga pangan nasional dalam jangka menengah dan panjang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda dan Vector Error Correction Model (VECM). Data yang digunakan meliputi data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Kementerian Pertanian selama periode 2000–2024. Variabel utama yang dianalisis meliputi suhu rata-rata, curah hujan, luas panen, produktivitas tanaman, serta indeks harga pangan nasional. Uji stasioneritas, kointegrasi, dan kausalitas Granger digunakan untuk mengidentifikasi hubungan jangka pendek dan jangka panjang antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu rata-rata sebesar 1°C menurunkan produksi padi nasional sebesar 3,5%, sementara penurunan curah hujan 10% menurunkan produksi jagung hingga 2,8%. Dampak tersebut menyebabkan kenaikan harga pangan rata-rata sebesar 5–7% per tahun dalam jangka panjang. Kesimpulannya, perubahan iklim berpengaruh nyata terhadap stabilitas produksi dan harga pangan nasional. Diperlukan kebijakan adaptasi pertanian yang berkelanjutan, seperti diversifikasi komoditas, penggunaan varietas tahan iklim, serta investasi pada teknologi irigasi dan prediksi iklim.