Deskripsi Kasus: Seorang wanita berusia 30 tahun datang ke unit gawat darurat dengan keluhan pusing, sinkop 6 jam SMRS disertai dengan nyeri dada, ulu hati dan bahu. Pasien dikenal dengan riwayat sindrom nefrotik, gambaran EKG 12 sadapan menunjukkan gambaran STEMI inferoposterior late onset dengan episode transient blok atrioventricular total, pemeriksaan marker enzim jantung HS Trop I menunjukkan hasil > 40.000 dengan status nefrotik aktif ( protein urin +3). Tindakan angiografi koroner dilakukan dengan support alat pacu jantung temporer menunjukkan adanya gambaran total oklusi di bagian proksimal arteri koroner kanan (RCA) serta gambaran diseksi koroner spontan. Tindakan Percutaneus Coronary Intervention (PCI) dilakukan dengan hasil restorasi aliran pembuluh darah yang baik. Diskusi: Keadaan hiperkoagulopati pada SN, yang dicirikan oleh kehilangan protein antikoagulan seperti antitrombin III melalui urin dan peningkatan sintesis faktor pro-koagulan oleh hati dianggap sebagai salah satu mekanisme utama terjadinya trombosis koroner in-situ. Namun penyebab abnormalitas koroner lainnya seperti peningkatan plak aterosklerotik yang signifikan, aneurisma koroner, serta diseksi spontan koroner juga menjadikan patofisiologi diantara keduanya menjadi tumpang tindih. Pasien dengan sindrom nefrotik yang memiliki karakteristik hiperlipidemia, hipoalbuminemia serta adanya edema menjadikan kecurigaan penyebab infark miokard akut adalah trombosis koroner akibat kondisi hiperkoagulopati. Gambaran angiografi koroner pada pasien menunjukkan adanya lesi trombosis tunggal di pembuluh darah koroner kanan (RCA) dengan gambaran diseksi koroner (Spontaneus Coronary Artery Dissection) di proximal RCA yang menyebabkan terjadinya tromboemboli massif. Disamping itu, kondisi AV Blok total merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokard yang melibatkan pembuluh darah koroner kanan akibat iskemia nodus AV yang alirannya bergantung pada suplai pembuluh darah tersebut. Perhatian khusus perlu diberikan pada pasien dengan riwayat risiko tinggi yang mengalami tromboemboli, khususnya saat menangani pasien muda dengan infark miokard. Pencegahan dan perawatan yang spesifik pada kelompok ini sangat penting untuk mengurangi kejadian komplikasi. Simpulan: Sindrom nefrotik merupakan faktor risiko pro-trombotik yang kuat dan harus diperhatikan pada pasien usia muda yang datang dengan STEMI. Diagnosis yang akurat dan pendekatan multidisiplin yang komprehensif mencakup reperfusi segera dan tatalaksana sindroma nefrotik sangat penting untuk hasil klinis yang optimal dan pencegahan rekurensi.