Daams, Brechtje
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Do Western Methods Work in South-East Asia? A Thought From the Cross-Cultural Usability Testing of a Food Processor in Indonesia and the Netherlands Daams, Brechtje; Hariandja, Johanna
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 20 No 3 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 3, 2005)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v20i3.4477

Abstract

Currently, many European companies sell their products all over the world, not only in Europe or America but also expanding to Asia. It is therefore interesting to investigate how people from a European and an Asian culture use and perceive a product. This is done by executing across-cultural usability test in Indonesia (a South-East Asian country) and The Netherlands (a Western European country). Usability testing is not very common among people in Indonesia, and therefore not known to the public. So far, no literature can be found about usability testing in Indonesia. On the other hand, usability testing is well known and has been applied successfully in the Netherlands over the last years. Doing usability testing in Indonesia has brought some interesting findings concerning the methods used. It is shown that generally used usability research methods such as the 'think-aloud' method combined with user observation are problematic in Indonesia. It is clear that this usability testing method is not suitable for Indonesians because they do not feel comfortable with it. In this paper, we recommend that if usability testing be executed with Indonesian participants, a method should be worked out which makes them more eager to participate and feel more comfortable when participating. The acceptability and applicability of a research method should be taken into account when testing products with participants from a different culture. Dewasa ini, banyak perusahaan Eropa menjual produknya ke seluruh dunia, bukan hanya di Eropa atau Amerika, tetapi juga merambah ke Asia. Cukup menarik untuk meneliti bagaimana masyarakat dengan budaya Eropa dan Asia menggunakan dan merasakan suatu produk. Hal ini dilakukan dengan melakukan uji-gunalintas budaya di Indonesia dan di Belanda. Uji-guna belum banyak dikenal orang Indonesia, karenanya tak diketahui masyarakat pada umumnya. Sejauh ini belum ditemukan kepustakaan tentang uji-guna di Indonesia. Dilain pihak, uji-guna sudah sangat dikenal dan telah diaplikasikan dengan berhasil di Belanda akhir-akhir ini. Melaksanakan uji-guna di Indonesia menghasilkan temuan-temuan yang menarik menyangkut metode yang dipakai. Ditunjukkan bahwa metode penelitian uji-guna yang biasa dipakai seperti metode "think aloud" dikombinasi dengan observasi pada penggunacukup problematik di Indonesia. Jelas bahwametode uji-guna demikian tidak cocok untuk orang Indonesia karena mereka merasa tak enak melakukannya. Dalam artikel ini, kami merekomendasikan bahwa bila suatu uji-guna dilakukan dengan orang Indonesia, perlu dirumuskan metode yang dapat menarik mereka untuk berperan serta dan memberi rasa lebih nyaman. Penerimaan dan dan kesesuaian suatu metode penelitian perlu diperhitungkan bila menguji produk dengan peserta dari berbagai budaya yang berbeda.
Cross-Cultural Usability Testing: Defining Cultural Differences in Product Usage and User Needs Between Dutch and Indonesian Users Hariandja, Johanna; Daams, Brechtje
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 20 No 4 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 4, 2005)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v20i4.4481

Abstract

In today's global economy, many products designed by European companies are sold worldwide. These products are used by different user groups in the world with different cultures who think and behave indifferent ways. Cross-cultural usability testing provides the key in defining the cultural differences in product usage and user needs between user groups. In this research, a cross-cultural usability testing of a European product is conducted between Dutch and Indonesian user groups by means of observation and interview. The participants are observed individually on how they use the product, what problems they experienced in using the product and their behavior in using the product and solving the problems they encountered. The usability testing is carried out using the think-aloud' method during the observation, which means that the participants are asked to speak about what they are doing and thinking when using the product. Comparing the results found, it can be concluded that Dutch and Indonesians use and perceive a product in a different way. The findings suggest that cross-cultural usability testing may be very useful when designing products for users with different cultures. It provides a competitive advantage for the companies when entering an international market to ensure equally usable products in different cultures. Dalam era ekonomi global, banyak produk yang dirancang oleh perusahaan Eropa dijual di seluruh dunia. Produk-produk tersebut dipakai oleh kelompok-kelompok penggunayang berbeda dengan budaya yang berbeda yang berpikir dan berperilaku berbeda pula. Uji-gunalintas-budaya merupakan kunci dalam menentukan perbedaan dalam penggunaan suatu produk dan kebutuhan pengguna di antara kelompok- kelompok pengguna. Dalam penelitian ini, suatu uji-gunalintas budaya dari sebuah produk Eropa dilakukan antara kelompok Belanda dan kelompok Indonesia dengan cara observasi dan wawancara. Para partisipan di observasi secara individual bagaimana mereka menggunakan produktersebut, dan bagaimana memecahkan masalah yang dihadapi. Uji guna ini dilakukan dengan metode “think-aloud” selama observasi, yang berarti bahwa para partisipan diminta untuk mengatakan apa yang dilakukan dan dipikirkan ketika menggunakan produk tersebut. Dengan membandingkan hasil-hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa orang Belanda dan orang Indonesia mempersepsi sebuah produk dengan carayang berbeda. Temuan-temuan menyiratkan bahwa uji-guna lintas budaya dapat amat bermanfaat bila merancang produk-produk untuk pengguna dengan berbagai budaya. Ini memberi manfaat kompetitif untuk perusahaan-perusahaan yang memasuki pasar internasional untuk menghasilkan produk-produk yang dapat dipakai sesuai budaya setempat.