Transformasi digital dan konvergensi layanan keuangan–telekomunikasi mengubah secara fundamental profil risiko bank, perusahaan telekomunikasi (telco), dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Indonesia. Bank semakin bergantung pada infrastruktur dan platform telco untuk penyediaan layanan perbankan digital, sementara BPR didorong memperluas inklusi keuangan di wilayah rural melalui kredit skala kecil dan kemitraan berbasis teknologi. Bersamaan dengan itu, agenda keuangan berkelanjutan menuntut integrasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ke dalam kerangka manajemen risiko lintas sektor. Artikel ini menyajikan kajian literatur naratif–integratif mengenai integrasi manajemen risiko pada bank, telco, dan BPR dengan menggunakan kerangka COSO Enterprise Risk Management (ERM) dan ISO 31000:2018 dalam perspektif manajemen keberlanjutan. Secara khusus, artikel ini bertujuan untuk: (1) memetakan profil dan praktik manajemen risiko di masing-masing sektor; (2) mengidentifikasi titik temu dan perbedaan penerapan COSO ERM dan ISO 31000; dan (3) merumuskan kerangka konseptual manajemen risiko terintegrasi yang menggabungkan prinsip triple bottom line dan kebijakan keuangan berkelanjutan. Sintesis literatur menunjukkan bahwa perbankan memiliki kerangka risiko yang relatif matang, telco berfokus pada risiko teknologi, jaringan, dan keamanan informasi, sedangkan BPR menghadapi dominasi risiko kredit dan operasional dengan kapasitas tata kelola dan teknologi yang terbatas. Artikel ini mengusulkan model di mana COSO ERM berperan sebagai arsitektur tata kelola, ISO 31000 sebagai proses manajemen risiko bersama, dan perspektif keberlanjutan sebagai lensa untuk mengelola risiko finansial maupun non-finansial lintas sektor, sekaligus memberikan agenda penelitian lanjutan bagi penguatan ekosistem keuangan berkelanjutan di Indonesia. Kata kunci: Manajemen Risiko; COSO ERM; ISO 31000; Keuangan Berkelanjutan; ESG