Penelitian ini membahas idiom mardomu roha dalam bahasa Batak Toba sebagai representasi nilai budaya yang tercermin dalam karya sastra Batak Toba. Idiom mardomu roha secara leksikal bermakna “pikiran bertemu”, namun secara idiomatik mengandung makna keselarasan batin, kesatuan perasaan, dan keharmonisan hubungan sosial. Kajian ini menggunakan pendekatan semantik budaya dengan metode penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian bersumber dari karya sastra Batak Toba serta data sekunder berupa buku linguistik, kamus bahasa Batak Toba, dan artikel jurnal ilmiah yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, sedangkan analisis data difokuskan pada penafsiran makna idiomatik dan konteks budaya penggunaan idiom mardomu roha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa idiom mardomu roha digunakan secara idiomatik untuk mengekspresikan nilai kesabaran, pengendalian diri, keikhlasan, tanggung jawab, penerimaan batin, serta keharmonisan sosial dalam berbagai konteks kehidupan, seperti hubungan kekeluargaan, kepemimpinan, dan peristiwa duka, khususnya kematian. Idiom ini merepresentasikan nilai budaya Batak Toba yang berlandaskan filosofi Dalihan Na Tolu, terutama prinsip somba marhula-hula dan manat mardongan tubu. Dengan demikian, idiom mardomu roha berfungsi tidak hanya sebagai unsur kebahasaan, tetapi juga sebagai simbol nilai budaya dan identitas masyarakat Batak Toba dalam karya sastra.