Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kutub Al-Sittah dalam Sejarah Keemasan Literatur Hadis: Dari Kodifikasi Ke Kanonisasi Samsul Bahri; Kibagus Hadi Kusuma
AL-KAINAH: Journal of Islamic Studies Vol. 4 No. 2 (2025): Al-Kainah: Journal of Islamic Studies
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) STAI Miftahul Huda Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69698/jis.v4i2.1516

Abstract

Latar Belakang: Kajian hadis dalam tradisi keilmuan Islam sering kali memposisikan kutub al-sittah sebagai kategori kanonik yang telah mapan dan final. Pendekatan tersebut cenderung mengabaikan dinamika historis dan epistemologis yang melatarbelakangi terbentuknya otoritas enam kitab hadis tersebut. Padahal, pemahaman terhadap proses peralihan dari kodifikasi hadis menuju kanonisasi kutub al-sittah menjadi penting untuk membaca sejarah literatur hadis secara lebih kritis dan komprehensif. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika perkembangan literatur hadis Islam sejak fase tradisi lisan, proses kodifikasi tertulis, hingga terbentuknya kutub al-sittah sebagai kanon hadis dalam tradisi Sunni. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan serta analisis historis-kritis terhadap sumber-sumber hadis klasik dan kajian ilmiah kontemporer yang relevan. Hasil Penelitian: Hasil kajian menunjukkan bahwa kutub al-sittah merupakan puncak dari proses panjang transmisi, seleksi, dan verifikasi hadis yang ditopang oleh metodologi periwayatan yang ketat, sistem penilaian sanad dan matan, penyusunan tematis berbasis fiqh, serta penerimaan luas di kalangan ulama. Proses kanonisasi ini berlangsung secara bertahap melalui praktik keilmuan, pengajaran hadis, dan penggunaan berkelanjutan dalam aktivitas istinbāṭ hukum. Kesimpulan: Penelitian ini menegaskan bahwa kutub al-sittah tidak lahir sebagai kanon yang bersifat ahistoris, melainkan sebagai konstruksi keilmuan yang terbentuk melalui proses historis dan epistemologis yang panjang, sehingga menjadikannya bukan hanya dokumentasi hadis, tetapi juga rujukan otoritatif yang terus hidup dalam tradisi keilmuan Islam hingga masa kini.