Penelitian ini menelaah tradisi Pesijuk dalam kehidupan masyarakat Gayo di dataran tinggi Aceh melalui pendekatan Filsafat Iluminasi yang digagas oleh Suhrawardi. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengungkap dimensi metafisis dan spiritual yang terkandung dalam tradisi Pesijuk, yang selama ini cenderung dipahami secara sempit sebagai kegiatan seremonial budaya. Dengan menerapkan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dan analisis filosofis, penelitian ini menafsirkan makna simbol-simbol seperti beras, tepung tawar, dan air bunga dalam bingkai konsep hierarki cahaya (nur al-anwar) serta pengetahuan hadir (al-ilm al-hudhuri) menurut Suhrawardi. Hasil kajian memperlihatkan bahwa Pesijuk tidak hanya berfungsi sebagai praktik sosial dan adat, tetapi juga mengandung nilai-nilai pencerahan batin dan penyucian spiritual yang menghubungkan manusia dengan realitas metafisik. Melalui simbolisme cahaya dan kesejukan batin, Pesijuk menjadi sarana reflektif bagi masyarakat Gayo dalam meraih keseimbangan antara dunia material dan spiritual. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa Pesijuk merupakan bentuk ekspresi religio-kultural yang memadukan kearifan lokal Gayo dengan prinsip-prinsip iluminasi dalam filsafat Islam, sekaligus merepresentasikan model spiritualitas kontekstual yang tumbuh dan berakar dalam tradisi keislaman Nusantara.