Krida Mustika, Candra
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perancangan Instalasi Algaerium sebagai Pemanfaatan Mikroalga di Halte Bus Yogyakarta Husna, Inayatul; Krida Mustika, Candra; Aryton Seno, Riant
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.17766

Abstract

Halte Bus Yogyakarta merupakan fasilitas transportasi umum yang banyak titiknya berlokasi di arus padat dengan tingkat emisi gas buang kendaraan yang tinggi. Tingginya arus kendaraan yang beroperasi memengaruhi tingginya emisi kendaraan bergerak berupa gas rumah kaca, salah satunya CO2. Penelitian ini bertujuan untuk merancang desain instalasi ramah lingkungan dari mikroalga untuk dapat diterapkan pada halte di Yogyakarta. Instalasi ini bertujuan untuk melengkapi fungsi ekologis pada area halte melalui proses penyerapan CO2 dan fungsi artistik untuk memberikan sentuhan karakter lokalitas Yogyakarta. Sumbangsih halte yang kurang berpengaruh untuk lingkungan dan desain yang kurang mengandung unsur lokalitas secara visual menjadi urgensi untuk inovasi halte di Yogyakarta dengan solusi artistik dan ekologi. Penelitian ini didasarkan pada jenis pendekatan design research yang berpijak pada perancangan artistik, adaptif, dan ekologis. Alur metode penciptaan karya ini menggunakan tahap design thinking Plattner et al (2010) dengan proses pendekatan eksplorasi dan ekperimentasi. Kombinasi bioteknologi dan desain diwujudkan dalam perancangan desain instalasi bernama Algaerium pada halte khususnya di Yogyakarta. Hasil pengujian kuantitatif menunjukkan bahwa mikroalga mampu menyerap konsentrasi CO2 secara substantial. Meskipun daya serap mengalami penurunan setelah hari keempat, analisis kritis membuktikan bahwa pengendalian suhu di bawah 24⁰C adalah faktor kunci untuk mempertahankan kultur yang pekat dan kinerja fiksasi CO2 yang tinggi di iklim tropis. Secara desain, instalasi Algaerium berhasil mengintegrasikan fotobioreaktor halte dengan ornamen motif Kawung yang estetis, menjadikannya solusi mitigasi ekologis yang inovatif dan adaptif terhadap identitas lokal Yogyakarta. Algaerium Installation Design as Utilization of Microalgae at Yogyakarta Bus StopABSTRACTYogyakarta Bus Stops, often situated in heavy traffic areas, are exposed to high levels of vehicular emissions, particularly greenhouse gases such as CO2. This research aims to develop an ecologically sound installation design utilizing microalgae for application in bus stops across Yogyakarta. The installation is intended to supplement the ecological function of the transit areas through $CO_2$ absorption, while simultaneously enhancing the artistic function by incorporating local Yogyakarta cultural characteristics. The current lack of environmental impact and visual absence of local elements in existing bus stop designs creates an urgency for innovative, ecologically, and aesthetically driven solutions. This study adopts a Design Research approach rooted in artistic, adaptive, and ecological principles. The methodology follows the Design Thinking stages proposed by Plattner et al. (2010), encompassing exploration and experimentation processes. The synergy between biotechnology and design is realized in the development of the installation named Algaerium for bus stops, specifically in the Yogyakarta region. Quantitative test results indicate that microalgae substantially absorb CO2 concentration. Although the absorption rate was observed to decline after the fourth day, critical analysis demonstrated that controlling the temperature below 24⁰C is the key factor for maintaining a dense culture and high CO2 fixation performance in a tropical climate. Architecturally, the Algaerium installation successfully integrates the photobioreactor into the bus stop structure using the aesthetic Kawung motif ornament, making it an innovative ecological mitigation solution that is adaptive to Yogyakarta's local identity.