AbstrakStudi ini mengkaji relevansi pemikiran pendidikan Ibn Miskawaih dengan pendidikan humanistik modern dalam menanggapi krisis moral, dehumanisasi, dan reduksionisme kognitif yang menjadi ciri praktik pendidikan kontemporer. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang didukung oleh tinjauan pustaka dan analisis filosofis-komparatif, penelitian ini mengeksplorasi konsep inti pendidikan Ibn Miskawaih, prinsip-prinsip teori humanistik modern, serta perbedaan epistemologis dan ontologis antara kedua paradigma tersebut. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa Ibn Miskawaih mengonseptualisasikan pendidikan sebagai proses pemurnian jiwa, pengembangan moral, dan pencapaian kebahagiaan hakiki melalui integrasi akal, etika, dan spiritualitas. Sementara itu, pendidikan humanistik modern menekankan otonomi peserta didik, aktualisasi diri, pengalaman pribadi, dan lingkungan belajar yang suportif. Analisis komparatif menunjukkan adanya konvergensi yang kuat dalam pengembangan manusia holistik, sentralitas pembelajaran eksperiensial, pembiasaan moral, dan peran guru sebagai fasilitator pertumbuhan pribadi. Namun, perbedaan signifikan terletak pada fondasi filosofis mereka: humanisme modern berlandaskan antroposentrisme sekuler, sementara Ibn Miskawaih mendasarkan pendidikan pada kesatuan akal dan wahyu ilahi. Studi ini menyimpulkan bahwa pemikiran pendidikan Ibn Miskawaih memberikan relevansi yang bermakna untuk memperkaya pendidikan humanistik dengan dimensi etika, spiritual, dan integratif, serta menawarkan model pedagogi yang lebih komprehensif dan humanis serta transformatif. Kata Kunci: Ibn Miskawaih ; Pendidikan Humanistik; Etika AbstrakPenelitian ini mengkaji relevansi pemikiran pendidikan Ibnu Miskawaih dengan paradigma pendidikan humanistik modern dalam konteks krisis moral, dehumanisasi, dan reduksionisme kognitif yang mewarnai pendidikan kontemporer. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif berdasarkan kajian kepustakaan dan analisis filosofis-komparatif, penelitian ini menggambarkan konsep inti pendidikan menurut Ibnu Miskawaih, teori humanistik modern, serta titik temu dan perbedaan epistemologis di antara keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan menurut Ibnu Miskawaih berorientasi pada penyucian jiwa, keseimbangan moral, dan pencapaian kebahagiaan tertinggi melalui integrasi akal, etika, dan spiritualitas. Sementara itu, pendidikan humanistik modern menekankan otonomi peserta didik, aktualisasi diri, pengalaman pribadi, dan lingkungan belajar yang mendukung. Analisis komparatif menggambarkan adanya konteks substantif pada aspek berorientasi holistik, pentingnya pengalaman, pembiasaan moral, dan peran guru sebagai fasilitator perkembangan manusia. Namun, perbedaan mendasar muncul pada landasan ontologis dan epistemologis: humanisme modern berpijak pada antropo-sentrisme sekuler, sementara Ibnu Miskawaih mendasarkan pendidikan pada integrasi akal dan wahyu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Ibnu Miskawaih memiliki relevansi signifikan bagi pengembangan pendidikan humanistik yang lebih etis, spiritual, dan komprehensif, sekaligus menawarkan model integratif yang dapat memperkaya cakupan moral pendidikan modern. Kata Kunci: Ibnu Miskawaih; Pendidikan Humanistik; Akhlak