This article addresses the ongoing challenges in church leadership caused by leaders lacking a proper understanding of servant leadership, which affects ethical decision-making within the church. The article aims to clarify the concept of servant leadership and the ethical challenges faced by church leaders in the Christian Churches of Java (GKJ) using an interpretive approach. It is hoped that by understanding servant leadership, these issues can be addressed practically within the church. Based on findings from the Akta Sidang Sinode GKJ XXVII-XXIX, various issues of church leadership are still found, stemming from personal ethical problems, actions that do not reflect transformative pastoral principles, and collective-collegial issues. To tackle these issues, church leaders should embrace their role as servants fulfilling God's will, prioritizing the empowerment of the congregation and fostering community to promote the growth of GKJ at the local, Classis, and Synod levels. Melihat persoalan kepemimpinan gerejawi yang masih terus terjadi akibat dari para pemimpin gerejawi yang kurang memahami bentuk kepemimpinan pelayan sehingga berdampak pada ketidaksesuaian dalam mengambil keputusan etis di gereja mendorong penulis untuk menulis artikel ini. Tujuan dari artikel ini adalah mengungkap pemahaman kepemimpinan pelayan serta menguraikan pergumulan-pergumulan etis kepemimpinan gerejawi di Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) dengan metode interpretatif sehingga melalui pemahaman kepemimpinan pelayan berguna untuk mengatasi pergumulan-pergumulan etis kepemimpinan gerejawi secara praktis dalam kehidupan gereja. Berdasarkan hasil temuan dalam Akta Sidang Sinode GKJ XXVII – XXIX masih ditemukan berbagai persoalan kepemimpinan gerejawi yang disebabkan dari persoalan etis personal, tindakan yang tidak mencerminkan prinsip pastoral transformatif serta persoalan kolektif-kolegial. Dalam upaya mengatasi persoalan-persoalan tersebut, hendaknya para pemimpin gerejawi memposisikan diri sebagai pelayan atau hamba yang melayani kehendak Allah sehingga mengutamakan pemberdayaan jemaat dan senantiasa mengupayakan ikatan kebersamaan dalam menjaga dan mengusahakan berkembangnya GKJ dalam lingkup lokal, Klasis, maupun Sinode.