Kesenian tradisional wayang pada masa lalu berfungsi sebagai media komunikasi politik, di mana elite atau tokoh politik memanfaatkannya untuk menyampaikan pesan-pesan politik kepada masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan lanskap budaya, praktik komunikasi politik di Indonesia mengalami transformasi. Wayang sebagai simbol budaya tradisional secara bertahap tergeser oleh budaya populer modern, khususnya meme digital, yang kini banyak digunakan sebagai medium ekspresi dan kritik politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk, nilai-nilai, serta pandangan publik terkait transformasi komunikasi politik dari simbol budaya tradisional (wayang) menuju budaya populer digital (meme). Penelitian ini menggunakan teori simbolik dan semiotika budaya yang relevan dengan kajian wayang sebagai medium komunikasi yang sarat akan tanda dan simbol. Wayang dipahami sebagai representasi nilai, moralitas, dan ideologi kebudayaan yang termanifestasi melalui tokoh, alur cerita, serta unsur pertunjukan lainnya. Pendekatan teoretis tersebut digunakan untuk mengungkap lapisan makna yang terkandung dalam praktik komunikasi simbolik, baik dalam konteks budaya tradisional maupun budaya digital. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif interpretatif dengan pendekatan studi kultural. Pendekatan ini memadukan analisis semiotika untuk mengkaji makna tanda dan representasi budaya, serta pendekatan etnografi untuk memahami konteks sosial dan budaya dari perspektif masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi politik dalam budaya Indonesia saat ini tidak lagi bergantung pada media kebudayaan tradisional seperti wayang. Masyarakat cenderung memanfaatkan meme sebagai sarana komunikasi politik untuk menyampaikan kritik, opini, dan respons terhadap kondisi sosial-politik yang berkembang di Indonesia.