Penelitian ini mengkaji dimensi pascakolonial dalam pembentukan identitas dan transformasi budaya Indonesia sebagaimana direpresentasikan dalam Para Priyayi karya Umar Kayam dan Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Tujuan penelitian ini adalah menelusuri bagaimana kedua novel tersebut menggambarkan pengaruh kolonialisme yang masih membekas terhadap struktur sosial, pembentukan identitas, dan nilai-nilai budaya dalam masyarakat Indonesia pascakemerdekaan. Analisis penelitian ini berlandaskan pada teori pascakolonial, khususnya konsep hibriditas dan mimikri dari Homi K. Bhabha serta psikologi kolonial dari Frantz Fanon. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang didukung oleh analisis tekstual, penelitian ini menelaah bagaimana ideologi kolonial diinternalisasi, dilawan, dan ditafsirkan kembali melalui struktur naratif, penggambaran tokoh, serta representasi simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Para Priyayi menggambarkan keberlanjutan mentalitas kolonial di kalangan elite Jawa yang masih mereproduksi hierarki sosial kolonial dalam masyarakat pascakemerdekaan, mencerminkan proses dekolonisasi yang belum sepenuhnya tuntas. Sebaliknya, Cantik Itu Luka menyingkap luka mendalam akibat kekerasan kolonial dan munculnya identitas hibrid yang lahir dari trauma sejarah, dengan memanfaatkan gaya realisme magis untuk mengkritik sistem kolonial sekaligus patriarkal. Kedua novel tersebut memperlihatkan bahwa sastra pascakolonial Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai bentuk perlawanan budaya, tetapi juga sebagai ruang rekonstruksi identitas nasional dan kesadaran historis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa narasi pascakolonial dalam sastra Indonesia merefleksikan proses negosiasi yang berkelanjutan antara tradisi, modernitas, dan ingatan kolektif, sekaligus menegaskan pentingnya dekolonisasi imajinasi kultural dan struktur sosial.