Yusuf , Enjang Burhanudin
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MODERASI BERAGAMA PERSPEKTIF TAFSIR AL-MISHBAH KARYA M. QURAISH SHIHAB SEBAGAI PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM Ni’mah, Azkia Faiqotun; Yusuf , Enjang Burhanudin
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.8199

Abstract

ABSTRACT Extremism and religious terrorism pose a serious threat to social cohesion and national stability, demanding wasathiyyah (religious moderation) as a fundamental solution. Wasathiyyah encompasses the pillars of Justice (Al-Adl), Balance (Tawazun), and Tolerance, serving as a counterweight to both limitless liberalism and rigid radicalism. Given that this phenomenon is driven by rigid textual interpretation, the integration of moderation concepts into Islamic Religious Education (PAI) is imperative. This research aims to address the gap in conceptual literature by formulating a strategic design for integrating wasathiyyah values into PAI, utilizing M. Quraish Shihab's Tafsir Al-Mishbah as the primary philosophical and methodological basis. The study employs a purely qualitative approach with a library research design, treating Tafsir Al-Mishbah as the primary data. Data was processed using Content Analysis with the Tafsir Maudhu'i (Thematic Interpretation) approach, classifying the substance of wasathiyyah within the domain of PAI. The findings indicate that the integration of wasathiyyah into PAI must be philosophically supported by Al-Attas's Concept of Din (for the balance of knowledge) and methodologically by Tafsir Maudhu'i (for comprehensive and contextual Qur'anic guidance). Practically, the strategic design includes (1) curriculum revision ensuring balance (Al-Adl and Tawazun); (2) dialogical, critical, and collaborative learning strategies; and (3) reinforcement of an anti-discrimination school culture. Student success indicators are measured by their ability to achieve Justice (Al-Adl) in critical thinking and Balance (Tawazun) in pro-social interaction. Therefore, wasathiyyah is the anti-extremism solution that must be mainstreamed in PAI. PAI must transform into an intellectual fortress that shapes balanced (mutawassit) Muslim individuals through the application of the Tafsir Maudhu'i methodology, yielding contextual guidance and measurable achievement indicators. ABSTRAK Ekstremisme dan terorisme berdalih agama merupakan ancaman serius bagi kohesi sosial dan stabilitas nasional, sehingga menuntut wasathiyyah (moderasi beragama) sebagai solusi fundamental. Wasathiyyah yang mencakup pilar Keadilan (Al-Adl), Keseimbangan (Tawazun), dan Toleransi adalah penyeimbang terhadap liberalisme tanpa batas dan radikalisme kaku. Mengingat fenomena ini sering dimotori oleh penafsiran dalil yang rigid, integrasi konsep moderasi ke dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi imperatif. Penelitian ini bertujuan mengisi kesenjangan literatur konseptual dengan merumuskan desain strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai wasathiyyah ke dalam PAI, dengan menjadikan Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab sebagai basis filosofis dan metodologis utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif murni dengan desain studi kepustakaan (library research), menjadikan Tafsir Al-Mishbah sebagai data primer. Data diolah menggunakan metode Analisis Isi (Content Analysis) dengan pendekatan Tafsir Maudhu'i (Tematik), untuk mengklasifikasikan substansi wasathiyyah ke dalam ranah PAI (kurikulum, pedagogi, evaluasi, dan budaya sekolah). Hasil dari penelitian ini menerangkan bahwa integrasi wasathiyyah ke dalam PAI harus didukung secara filosofis oleh Konsep Din Al-Attas (untuk keseimbangan ilmu) dan secara metodologis oleh Tafsir Maudhu'i (untuk panduan Qur'ani yang utuh dan kontekstual). Secara praktis, desain strategis mencakup (1) revisi kurikulum yang seimbang (Al-Adl dan Tawazun); (2) strategi pembelajaran dialogis, kritis, dan kolaboratif; dan (3) penguatan budaya sekolah anti-diskriminasi. Indikator keberhasilan siswa diukur dari kemampuan mereka mencapai Keadilan (Al-Adl) dalam berpikir kritis dan Keseimbangan (Tawazun) dalam interaksi pro-sosial. Dengan demikian dapat dusimpulkan bahwa wasathiyyah adalah solusi anti-ekstremisme yang harus diarusutamakan dalam PAI. PAI harus bertransformasi menjadi benteng intelektual yang membentuk individu Muslim seimbang (mutawassit) melalui penerapan metodologi Tafsir Maudhu'i, sehingga menghasilkan panduan kontekstual dan indikator capaian yang terukur.