Perkembangan media digital telah menjadikan YouTube sebagai ruang publik alternatif bagi penyampaian kritik politik terhadap kebijakan negara. Salah satu figur yang aktif memanfaatkan media ini adalah Rocky Gerung melalui kanal Rocky Gerung Official, khususnya dalam mengkritik kebijakan distribusi LPG 3 kilogram oleh Menteri ESDM. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi kebijakan serta implikasi ideologis yang dibangun dalam wacana kritik tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma kritis dan menerapkan Analisis Wacana Kritis model Teun A. van Dijk yang mencakup dimensi teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Data diperoleh dari transkripsi video berjudul “Bahlil Harus Dicopot, Bikin Kebijakan Sengsarakan Rakyat, Tanpa Konsultasi Presiden”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan distribusi LPG 3 kilogram direpresentasikan sebagai kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat kecil dan mencerminkan lemahnya tanggung jawab negara dalam menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Wacana kritik Rocky Gerung mengandung implikasi ideologis keadilan sosial yang menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai tolok ukur utama legitimasi kebijakan publik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media digital berperan strategis sebagai sarana kontrol sosial terhadap kekuasaan negara dan merekomendasikan penelitian lanjutan mengenai peran aktor digital dalam pembentukan opini publik serta dinamika demokrasi kontemporer.Kata Kunci: Analisis Wacana Kritis, YouTube, Kritik Politik, Kebijakan LPG, Rocky Gerung