Urgensi dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana faktor psikologis seperti Consumer Animosity dan Consumer Ethnocentrism memengaruhi perilaku konsumen dalam konteks sosial-politik global, khususnya terkait konflik Palestina-Israel yang telah memicu reaksi boikot terhadap merek-merek internasional seperti Starbucks di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kedua faktor tersebut terhadap keputusan pembelian produk Starbucks di Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research guna menguji hubungan sebab-akibat antar variabel. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Surabaya berusia 15–45 tahun yang pernah membeli produk Starbucks minimal satu kali dan mengetahui isu boikot. Sampel sebanyak 96 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tersebut. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup yang disusun sendiri oleh peneliti, terdiri dari pernyataan terkait Consumer Animosity, Consumer Ethnocentrism, dan keputusan pembelian yang diukur menggunakan skala Likert lima poin. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran e-kuesioner selama empat bulan. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS versi 25 dengan metode uji validitas, reliabilitas, dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik Consumer Animosity maupun Consumer Ethnocentrism berpengaruh negatif signifikan terhadap keputusan pembelian produk Starbucks. Hasil regresi linier berganda menghasilkan persamaan Y = 31,156 – 0,324X1 – 0,358X2, dengan nilai signifikan dari setiap variabel kurang dari 0,05. Artinya, semakin tinggi tingkat animositas dan etnosentrisme konsumen, semakin rendah kecenderungan mereka untuk membeli produk Starbucks. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan aspek psikologis konsumen dalam strategi pemasaran, terutama di tengah isu-isu sosial dan politik yang sensitive.