Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia yang berkontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa negara. Akan tetapi, dalam rentang waktu 2018–2022 terjadi penurunan produksi kakao yang salah satunya dipicu oleh kondisi kekeringan. Upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permasalahan tersebut adalah melalui perbaikan teknik budidaya, khususnya pada tahap pembibitan, salah satunya dengan pemanfaatan pupuk hayati mikoriza.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pemberian pupuk hayati mikoriza pada berbagai tingkat cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan bibit kakao. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Juni hingga Oktober 2025 di Green House Laboratorium Tanaman Politeknik Negeri Jember. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah dosis pupuk hayati mikoriza yang terdiri atas M0 (tanpa mikoriza), M1 (4 gram/polybag), dan M2 (8 gram/polybag). Faktor kedua adalah interval penyiraman yang meliputi C0 (kontrol), C1 (penyiraman setiap 3 hari), dan C2 (penyiraman setiap 5 hari).Kombinasi perlakuan berjumlah sembilan dengan tiga kali ulangan. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji ANOVA, kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati mikoriza memberikan pengaruh nyata terhadap volume akar, dengan hasil terbaik diperoleh pada dosis 8 gram/polybag sebesar 4,41 cm³. Sementara itu, perlakuan cekaman kekeringan berdasarkan interval penyiraman tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan bibit kakao pada seluruh parameter yang diamati. Interaksi antara pupuk hayati mikoriza dan cekaman kekeringan menunjukkan bahwa kombinasi dosis mikoriza 4 gram/polybag dengan penyiraman setiap satu hari sekali mampu meningkatkan jumlah daun secara nyata, yaitu mencapai rata-rata 14,53 helai.