Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pharmacogenomic Regulation of the NF-kB–Nrf2 Axis by Curcumin: A Precision Molecular Approach to Inflammation and Oxidative Stress Alisya, Questa Soundri; Khairunnisa; Abdullah
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.1050

Abstract

Introduction: Chronic inflammation and oxidative stress are major mechanisms in degenerative diseases, including cancer, diabetes, and cardiovascular disorders. The NF-kB and Nrf2 pathways play a role in maintaining redox balance and inflammatory response. Curcumin, the main bioactive compound of Curcuma longa L., can simultaneously modulate both pathways through pharmacogenomic mechanisms influenced by individual genetic variations. Method: This study used the Systematic Literature Review method in accordance with the PRISMA 2020 guidelines. Searches were conducted in PubMed, Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar until October 2025 using the keywords “Curcumin,” “NF-kB,” “Nrf2,” “Oxidative Stress,” and “Pharmacogenomics.” Studies assessing the molecular modulation of NF-kB/Nrf2 by curcumin and gene-dependent effects were included. Results and Discussion: A total of 31 studies met the inclusion criteria, including in vitro, in vivo, in silico, and clinical studies. Curcumin suppressed NF-kB activation and activated Nrf2/HO-1, thereby reducing ROS and proinflammatory cytokines. Variations in the ERCC5 rs751402 gene, as well as the expression of SLC7A11 and ATAD3A/B, influenced the cellular response to curcumin. In silico and network pharmacology analyses revealed multigenic targets related to inflammation and oxidative stress. Nanoformulations enhance bioavailability and clinical immune response. Conclusion: Curcumin acts as a dual-regulator pharmacogenomic agent that balances the NF-kB and Nrf2 pathways, reducing inflammation and oxidative stress in a gene-dependent manner. These findings support its potential as a natural biomolecule for the development of precision therapies for chronic diseases involving inflammation and oxidative stress.   Keywords: Curcumin, NF-kB, Nrf2, Oxidative Stress, Pharmacogenomics
Gambaran Komplikasi pada Bayi Prematur yang dirawat di NICU Rumah Sakit Islam Siti Rahmah Padang Tahun 2024 Alisya, Questa Soundri; Efriza
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.326

Abstract

Latar Belakang: Prematuritas merupakan penyebab utama kematian bayi baru lahir dan anak di bawah lima tahun di seluruh dunia. Sekitar 15 juta bayi lahir prematur setiap tahun, dan lebih dari satu juta di antaranya meninggal akibat komplikasi yang dapat dicegah. Di Indonesia, prevalensi kelahiran prematur mencapai sekitar 10% dan menjadi salah satu penyebab kematian neonatal. Bayi prematur berisiko mengalami berbagai komplikasi seperti Respiratory Distress (RD), Bronchopulmonary Dysplasia (BPD), Apnea, Necrotizing Enterocolitis (NEC), sepsis, ikterus, Intraventricular Hemorrhage (IVH), dan Retinopathy of Prematurity (ROP). Perawatan intensif di ruang NICU diperlukan untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Tujuan: Mengetahui dan mengidentifikasi jenis komplikasi yang dialami bayi prematur. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan pendekatan total sampling. Sampel meliputi seluruh bayi prematur dengan usia kehamilan <37 minggu yang dirawat di NICU RSI Siti Rahmah Padang selama 1 Januari–31 Desember 2024. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis secara univariat menggunakan SPSS, kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil: Dari 41 bayi prematur, mayoritas memiliki usia kehamilan 32–<37 minggu (78,0%), berat lahir 1500–2500 gram (95,1%), dan berjenis kelamin laki-laki (51,2%). Sebagian besar ibu berusia 20–35 tahun (85,4%), berstatus gizi normal (36,6%), melakukan ANC adekuat (90,2%), memiliki riwayat obstetri nullipara (43,9%), dan tidak memiliki penyakit (43,9%). Komplikasi terbanyak adalah Respiratory Distress (97,6%), diikuti ikterus (65,9%) dan apnea (14,6%), sedangkan sepsis hanya ditemukan pada satu bayi (2,4%). Kesimpulan: Komplikasi yang paling sering terjadi pada bayi prematur adalah Respiratory Distress, diikuti ikterus dan apnea. Pemantauan ketat serta penanganan cepat terhadap gangguan pernapasan penting untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas neonatal.