Pengeringan merupakan salah satu tahapan penting dalam pengolahan hasil pertanian, khususnya pada komoditas tembakau. Proses ini bertujuan untuk menurunkan kadar air daun tembakau hingga mencapai tingkat optimal, sehingga mutu, aroma, warna, dan daya simpan tetap terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep-konsep fisika yang diterapkan dalam berbagai teknologi pengeringan tembakau melalui metode studi kepustakaan terhadap 20 jurnal nasional terpilih. Penelaahan dilakukan untuk memahami prinsip-prinsip fisika yang digunakan, seperti kalor, konduksi, konveksi, radiasi, serta pengukuran dan kontrol suhu dan kelembaban dalam teknologi pengering. Hasil studi menunjukkan bahwa penerapan konsep kalor Q = mcΔT, sistem kontrol otomatis berbasis fuzzy logic, dan pengintegrasian sensor suhu dan kelembaban berbasis Internet of Things (IoT) menjadi solusi yang efektif dalam meningkatkan efisiensi pengeringan. Teknologi seperti mesin burner biomassa, oven listrik, serta sistem pemantauan suhu-kelembaban digital terbukti mampu menurunkan kadar air secara cepat dan menjaga kualitas tembakau. Selain itu, pemanfaatan bahan bakar alternatif seperti biji jarak, wood pellet, dan briket sekam padi menunjukkan efektivitas dalam menghasilkan kalor tinggi dengan biaya operasional rendah dan ramah lingkungan. Namun demikian, adopsi teknologi ini masih menghadapi kendala, terutama pada keterbatasan pemahaman petani terhadap konsep fisika dan rendahnya akses terhadap infrastruktur teknologi. Oleh karena itu, perlu adanya dukungan kebijakan, pelatihan, serta sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha agar transfer teknologi dapat berjalan optimal. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam pengembangan teknologi pertanian berbasis sains, khususnya dalam proses pengeringan tembakau yang efisien, presisi, dan berkelanjutan.