Fenomena fatherless sering dikaitkan dengan berbagai risiko perkembangan anak, khususnya pada aspek sosial-emosional dan kemandirian. Namun, tidak semua anak yang mengalami kondisi tersebut menunjukkan dampak negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan resiliensi anak usia dini dalam kondisi fatherless serta faktor-faktor yang mendukung terbentuknya resiliensi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian adalah seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang mengalami fatherless dan tinggal di Desa Binjai Dusun V. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dengan ibu sebagai informan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek tetap menunjukkan kemandirian yang baik dalam aktivitas sehari-hari, seperti makan, berpakaian, mandi, pergi sekolah dan mengaji secara mandiri, serta mampu bersosialisasi dengan baik. Temuan ini menunjukkan adanya resiliensi positif yang dipengaruhi oleh pola asuh ibu yang suportif, dukungan lingkungan keluarga dan sosial, pengalaman pendidikan di PAUD, serta karakter anak yang adaptif. Penelitian ini menegaskan bahwa kondisi fatherless tidak selalu berdampak negatif terhadap perkembangan anak apabila didukung oleh faktor protektif yang memadai.