Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analysis of shoreline changes in Brondong District, Lamongan Regency, East Java, Indonesia Kusumaningtyas, Al Izzha; Noverma; Perdanawati, Rizqi Abdi
Journal of Marine Resources and Coastal Management Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Brondong District in Lamongan Regency is one of Indonesia’s coastal zones where shoreline dynamics are highly sensitive to both natural processes and human activities. As coastal development intensifies, shoreline positions in this region exhibit periodic shifts, resulting in either land expansion or loss. Understanding these changes is critical for effective coastal management, regional planning, and risk mitigation. This study analyzed shoreline displacement from 1993 to 2019 and projected shoreline conditions up to 2030. Remote sensing techniques, supported by the Digital Shoreline Analysis System (DSAS), were employed to quantify shoreline movement and calculate accretion and erosion rates through transect-based statistical models. Land-use changes were analyzed using the regional spatial plan and Landsat imagery, validated through field observations. Results indicate that Brondong District experienced predominantly accretional shoreline movement over the study period. Brondong Village showed the most substantial accretion, with an average shoreline shift of 376.12 meters and an annual rate of 14.49 meters, while Lohgung Village exhibited the lowest, with 31.72 meters and 1.22 meters per year. Differences between villages suggest that local geomorphology, sediment supply, and human activities significantly influence coastal change. Projections for 2030 indicate that accretion will continue to dominate, with Brondong Village expected to experience an additional 42.58 meters of shoreline advance at an annual rate of 3.87 meters. Although the projected rate is lower than historical values, continued land accumulation highlights the long-term influence of sediment deposition, tidal processes, and coastal infrastructure. These findings provide valuable insights for sustainable coastal management, planning, and adaptation strategies in rapidly developing coastal zones.
Assessing Economic Carrying Capacity through Financial Feasibility Analysis for Sustainable Seaweed and Pearl Oyster Mariculture in the Dampier Strait Conservation Area Ichsan Suryo Wibowo; Ali Mashar; Niken Tunjung Murti Pratiwi; Fery Kurniawan; Al Izzha Kusumaningtyas; Istna Nabila Zulfa; Masruhin Masruhin
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management)
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jppt.10.1.36-42

Abstract

A financial feasibility analysis in mariculture activities is necessary to ensure the business can provide economic benefits and operate sustainably. The Dampier Strait Conservation Area has the potential to develop seaweed and pearl oyster cultivation businesses. However, as a conservation area, its utilization must consider environmental carrying capacity. This study aims to assess the financial feasibility of seaweed and pearl oyster cultivation in the Dampier Strait Conservation Area as a basis for optimal, environmentally friendly business planning that provides economic benefits for the local community. Financial feasibility is measured using a cost-benefit analysis method. The first step is to determine the efficiency of component use and cost structure in the aquaculture business planning scheme. The results of the cost and benefit calculations are used to determine the capacity for developing the aquaculture business, which includes an assessment of several aspects of future investment. Based on the results of the cost-benefit analysis, the marine aquaculture business for both commodities is feasible for development, having met business feasibility requirements based on the comparison of cost and benefit values, the percentage of profit, the rate of return on assets, the difference and comparison between expenses and revenues, and the payback period. All stages of the analysis have been able to produce comprehensive results to achieve optimal and sustainable utilization of the area through the development of mariculture activities. This has taken into account the continuity between environmental potential and human demands for utilizing ecosystem services in an integrated manner.
PENGARUH KEPEMIMPINAN AUTENTIK DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP PERILAKU KERJA INOVATIF KARYAWAN GENERASI MILENIAL DI PT. XYZ Al Izzha Kusumaningtyas; Ahmad Rizky Sridadi; Ichsan Suryo Wibowo; Istna Nabila Zulfa
Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING) Vol. 8 No. 6 (2025): COSTING : Journal of Economic, Bussines and Accounting
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/7vtfnn41

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemimpinan autentik dan budaya organisasi terhadap perilaku kerja inovatif karyawan pada PT XYZ. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner, sedangkan teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua variabel independen berpengaruh signifikan terhadap perilaku kerja inovatif. Variabel kepemimpinan autentik memiliki nilai signifikansi 0,018 < 0,05, sedangkan variabel budaya organisasi memiliki nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kepemimpinan autentik dan semakin kuat budaya organisasi, maka semakin tinggi pula perilaku kerja inovatif karyawan. Kepemimpinan autentik yang ditunjukkan melalui sikap dan perilaku positif pemimpin mampu mendorong inovasi karyawan. Selain itu, budaya organisasi yang sehat dapat menstimulasi karyawan untuk bekerja lebih baik, menghasilkan ide-ide baru, dan menemukan solusi atas berbagai permasalahan.
Penguatan Tata Kelola Konservasi Mangrove Berbasis Masyarakat melalui Pendekatan Community-Based Conservation dan Community-based Research di Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik Ichsan Suryo Wibowo; Al Izzha Kusumaningtyas; Ziadatur Rizqiyah
Inovasi Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 4 No 2 (2026): IJPM - Agustus 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/ijpm.1324

Abstract

Kawasan ekosistem mangrove di wilayah pesisir Desa Pangkahwetan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologi, mendukung aktivitas sosial-ekonomi masyarakat, serta melindungi wilayah pesisir dari berbagai ancaman lingkungan. Namun, dalam beberapa dekade terakhir kawasan ini mengalami degradasi akibat aktivitas antropogenik dan pemanfaatan sumber daya pesisir yang belum memperhatikan prinsip keberlanjutan. Kondisi tersebut mengancam fungsi ekologis mangrove serta mengganggu stabilitas sistem sosial-ekologi masyarakat pesisir. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan untuk memulihkan fungsi ekosistem mangrove melalui edukasi dan sosialisasi berbasis konservasi. Program bertujuan meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan partisipasi masyarakat dalam upaya konservasi mangrove dengan menerapkan pendekatan Community-Based Conservation yang dipadukan dengan prinsip Community-Based Research. Pendekatan Community- Based Conservation diterapkan dengan menempatkan Masyarakat sebagai subjek aktif dalam identifikasi permasalahan dan perumusan Solusi konservasi, sedangkan prinsip Community-Based Research diwujudkan melalui penghimpunan persepsi, pengalaman dan pengetahuan local Masyarakat sebagai dasar penyusunan strategi rehabilitasi. Kegiatan dilakukan melalui metode curah pendapat (brainstorming) bersama masyarakat pesisir, kelompok nelayan, Pemerintah Desa Pangkahwetan, dan Kelompok Masyarakat Pengawas (PokMasWas) Muara Tangguh sebagai mitra konservasi. Kegiatan ini melibatkan 30 peserta dengan Tingkat kehadiran mencapai 100%. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran, pengetahuan, dan keterlibatan masyarakat mengenai aspek ekologi, sosial-ekonomi, mitigasi bencana, teknik penanaman dan perawatan bibit mangrove, serta monitoring kesehatan vegetasi. Program ini juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan para pemangku kepentingan serta menjadi dasar penyusunan strategi rehabilitasi dan rencana pengelolaan kawasan pesisir yang berkelanjutan. Luaran yang dihasilkan meliputi dokumen rencana pengelolaan kawasan pesisir, modul dan media edukasi konservasi mangrove, peta hasil identifikasi mangrove.