Disrupsi dan persaingan bisnis yang ketat masa kini, fenomena penurunan produktivitas dan tingginya angka turnover karyawan menjadi tantangan utama dalam Manajemen SDM. Banyak organisasi menghadapi masalah "disengagement" di mana karyawan hanya bekerja sekadar memenuhi kewajiban formal tanpa adanya keterikatan emosional atau komitmen terhadap visi perusahaan. Hal ini berdampak langsung pada penurunan kualitas layanan, rendahnya inovasi, dan kegagalan pencapaian target organisasi secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana tingkat employee engagement (keterikatan karyawan) berperan sebagai prediktor utama terhadap kinerja individu. Melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif, strategi MSDM difokuskan pada penguatan tiga dimensi utama engagement: semangat (vigor), dedikasi (dedication), dan keasyikan bekerja (absorption). Intervensi yang diusulkan mencakup perbaikan sistem penghargaan, pengembangan budaya kerja inklusif, serta penyediaan jalur pengembangan karier yang transparan untuk meningkatkan rasa kepemilikan karyawan. Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi positif dan signifikan antara tingkat employee engagement dengan kinerja karyawan. Karyawan yang memiliki tingkat keterikatan tinggi cenderung lebih proaktif, memiliki loyalitas yang kuat, dan mampu melampaui standar kinerja yang ditetapkan (beyond job description). Secara strategis, temuan ini menegaskan bahwa investasi pada kesejahteraan psikologis dan keterlibatan karyawan bukanlah beban biaya, melainkan aset strategis yang secara langsung meningkatkan efisiensi operasional dan profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang.