Perempuan pada masa penjajahan terbatas pada urusan domestik sehingga tidak dianggap perlu untuk memiliki pendidikan tinggi. Setiap perempuan perlu mempunyai hak untuk dapat memilih sendiri segala sesuatu yang menurutnya memang baik. Perempuan, dengan pandangan yang terbentuk oleh pengalaman hidup mereka, dapat membawa inovasi, empati, dan pendekatan kolaboratif yang berharga dalam menghadapi tantangan kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menggali serta mengkaji lebih dalam mengenai tiga hal, meliputi: Pertama, mengidentifikasi peran Rahmah El-Yunusiyah terhadap pendidikan perempuan; Kedua, mengidentifikasi serta medeskripsikan sejarah perkembangan pendidikan integratif Diniyyah Puteri Padang Panjang; Ketiga, mengidentifikasi serta mendeskripsikan model pemberdayaan perempuan untuk masa depan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode library research dimana penggunaan kepustaaan sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; Rahmah El-Yunusiyah dikenal dengan sebutan Rangkayo Bundo Kanduang membuktikan peran serta kontribusi perempuan dalam menunjang kemajuan zaman. Diniyyah Puteri menyajikan model pendidikan integratif memadukan pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam sistem asrama atau pondok pesantren. Model pemberdayaan perempuan untuk masa depan berkelanjutan, meliputi: Pertama, peningkatan kualitas pendidikan perempuan; Kedua, pemberdayaan produktivitas perempuan; Ketiga, pembaharuan dan penguatan pendidikan Islam melalui sitem pendidikan integratif; Keempat, kepemimpinan perempuan pada ranah yang lebih luas; Kelima, pemberdayaan potensi multiple intellegence.