Daud Manno
Sekolah Tinggi Alkitab Jembar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Etika Kekristenan yang Berakar dalam Kasih: Analisis Teologi Sistematis Efesus 4:1-32 Margaretha Sara Fauubun; Daud Manno; Jonar Situmorang
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/7vj95919

Abstract

This study analyzes Christian ethics rooted in love based on Ephesians 4:1-32 through a systematic theological approach. The introduction highlights the importance of love as the core of ethical teachings in Christianity, particularly in shaping character and church unity. The aim of this research is to explore how love plays a role in shaping the ethical and relational life of believers, as well as in creating harmony within the church and society. The method used is a systematic theological analysis of the text of Ephesians 4:1-32, emphasizing the principle of love in interpersonal relationships, forgiveness, and obedience to Christ as the Head. The findings and discussion reveal that love serves as the primary foundation for the development of Christian character, church unity, and ethical transformation in daily life. The love taught in Ephesians is not merely a moral command but a call to a life that fully reflects Christ.   Penelitian ini menganalisis etika Kekristenan yang berakar dalam kasih berdasarkan Efesus 4:1-32 melalui pendekatan teologi sistematis. Pendahuluan menyoroti pentingnya kasih sebagai inti dari ajaran etika dalam Kekristenan, khususnya dalam membentuk karakter dan kesatuan gereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana kasih berperan dalam membentuk kehidupan etis dan relasional orang percaya, serta dalam menciptakan harmoni di dalam gereja dan masyarakat. Metode yang digunakan adalah analisis teologis sistematis terhadap teks Efesus 4:1-32, dengan menekankan pada prinsip kasih dalam hubungan antar sesama, pengampunan, dan ketaatan kepada Kristus sebagai Kepala. Hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa kasih menjadi dasar utama bagi pengembangan karakter Kristen, kesatuan gereja, dan transformasi etis dalam kehidupan sehari-hari. Kasih yang diajarkan dalam Efesus bukan hanya perintah moral, tetapi panggilan untuk hidup yang mencerminkan Kristus secara keseluruhan.
Pelayanan Diakonia terhadap Lansia dalam Gereja Lokal:  Evaluasi Teologis dan Hostoris Berdasarkan  Matius 25:35-46 Haniel O.P. Yoewono; Doni Heryanto; Daud Manno
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/59s9ed27

Abstract

This article examines elderly ministry within the context of the local church using a pure literature approach based on the IMRAD structure. The central focus is to evaluate both the social and spiritual services provided to the elderly, rooted in the biblical foundation of Matthew 25:35-46, and to explore theological contributions, cultural mandates, and the mission of the church across various traditions (Catholic, Orthodox, Protestant, and Pentecostal). The study reveals that while elderly care is often viewed as ordinary diaconal work, it theologically represents a concrete expression of transformative Christian faith. A historical and interdenominational comparison shows the development and challenges of elderly ministry in the modern era. The novelty of this article lies in integrating biblical-theological perspectives with contextual cross-tradition analysis, as well as advocating for renewed models of elderly church ministry. It concludes that the church must shift its service paradigm from merely charitable acts to empowering and participatory spiritual formation, in alignment with the Gospel values and the church’s marturia today.   Artikel ini mengkaji pelayanan lansia dalam konteks gereja lokal melalui pendekatan literatur murni. Fokus utama adalah mengevaluasi pelayanan sosial dan rohani terhadap lansia dengan menggunakan Matius 25:35–46 sebagai dasar biblika, serta menelaah kontribusi teologis, mandat budaya, dan misi gereja dari berbagai tradisi (Katolik, Ortodoks, Protestan, dan Pantekosta). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pelayanan lansia sering dianggap sebagai tugas diakonia biasa, secara teologis pelayanan ini mencerminkan tindakan nyata iman Kristen yang transformatif. Tinjauan historis dan perbandingan lintas denominasi memperlihatkan perkembangan dan tantangan pelayanan kepada lansia di era modern. Kebaruan artikel ini terletak pada integrasi pendekatan biblika-teologis dengan studi kontekstual lintas tradisi, serta dorongan pembaruan model pelayanan gereja terhadap lansia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gereja perlu memperluas paradigma pelayanannya dari sekadar karitatif menjadi pembinaan yang memberdayakan dan partisipatif, sejalan dengan nilai-nilai Injil dan marturia gereja masa kini.