Adi Putra
Sekolah Tinggi Teologi Pelita Dunia, Tangerang, Banten

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kajian tentang Problematika Persembahan Persepuluhan dalam Gereja Masa Kini Adi Putra
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/3vx5yn62

Abstract

Tithing has caused polemics among churches or Christians. Some agree that this practice is no longer relevant, but generally churches still practice it, including churches in Indonesia. This is what is examined in this study, specifically how should the church practice the practice of tithing? Is it still relevant or not? By using qualitative research, especially literature review, the following conclusions were found. The practice of tithing is still allowed in the church. This is because tithing means returning ten percent of every income to God, the giver of blessings. Even though Christ has come and has redeemed Christians, it only emphasizes that Christians are obliged to give tithes to God. Just as Abraham tithed to Melchizedek, so Christians tithe to Christ who has redeemed and saved Christians. Tithing offerings are given and offered to God and managed by each minister in an institutional (not personal) context. It is intended to be used to support stewardship in the church as well as to support the lives of the ministers and their families. However, it is not wrong if tithes are also allocated to help the poor, migrants and orphans. Because the church should not be trapped in the practice of the scribes and Pharisees who were so keen on tithing but neglected love and justice.     Persembahan persepuluhan menimbulkan polemik di kalangan gereja atau orang Kristen. Ada yang setuju bahwa praktik ini sudah tidak relevan lagi, tetapi umumnya gereja masih mempraktikkannya tidak terkecuali gereja-gereja di Indonesia. Hal inilah yang diteliti dalam penelitian ini, khususnya bagaimana seharusnya gereja mempraktikkan praktik persepuluhan ini? Apakah masih relevan atau tidak? Dengan menggunakan penelitian kualitatif khususnya kajian literatur, maka dijumpai beberapa kesimpulan sebagai berikut. Praktik persepuluhan memang masih diperbolehkan dalam gereja. Oleh karena dengan memberikan persepuluhan berarti mengembalikan sepuluh persen dari setiap penghasilan kepada Tuhan sang pemberi berkat. Sekalipun Kristus telah datang dan telah menebus orang Kristen, namun hal justru semakin mempertegas bahwa orang Kristen wajib memberikan persembahan persepuluhan kepada Tuhan. Sama halnya Abraham memberikan persepuluhan kepada Melkisedek, demikian pula orang Kristen memberikan persepuluhan kepada Kristus yang telah menebus dan menyelamatkan orang Kristen. Persembahan persepuluhan diberikan dan dipersembahkan kepada Tuhan dan dikelola oleh setiap pelayan dalam konteks kelembagaan (bukan personal). Hal itu bertujuan supaya digunakan untuk mendukung penatalayanan dalam gereja sekaligus untuk membantu kehidupan para pelayan dan keluarganya. Namun tidaklah keliru apabila persepuluhan juga dialokasikan untuk membantu orang-orang miskin, pendatang dan anak yatim. Oleh karena jangan sampai gereja terjebak dalam praktik yang dilakukan oleh ahli Taurat dan orang Farisi yang begitu giat memberikan persepuluhan namun mengabaikan kasih dan keadilan.