This study aims to examine the lifestyle patterns of the congregation as recorded in Acts 2:41–47 and to evaluate their relevance for the GPdI congregation in Sentani Barat, Jayapura, Papua. Thus far, the congregation’s understanding has largely remained at a theological level without being accompanied by authentic practices of faith, resulting in stagnation both in spiritual growth and in numerical development. Employing a qualitative descriptive method, this research explores the dynamics of the early church community, interprets the theological significance of their lifestyle, and investigates its applicability in the contemporary context of church ministry. The findings reveal critical issues such as limited doctrinal comprehension, the influence of secular lifestyles (e.g., alcohol consumption and smoking), and a lack of commitment to worship and fellowship. These factors have weakened the congregation’s spiritual vitality and diminished the solidarity of the faith community. The study highlights the urgency of internalizing the Word of God and relying on the work of the Holy Spirit as the foundation for shaping a renewed congregational lifestyle. Its contributions are twofold: (1) theological-conceptual, by deepening the understanding of the early church’s communal life as a timeless model of faith; and (2) practical-contextual, by offering concrete strategies for the GPdI Sentani Barat congregation to confront secularization and cultivate a more authentic, biblical, and transformative church life. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola hidup jemaat sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41–47 serta mengevaluasi relevansinya bagi jemaat GPdI Sentani Barat, Jayapura, Papua. Selama ini pemahaman jemaat cenderung berhenti pada dimensi teologis tanpa diikuti praksis kehidupan iman yang nyata, sehingga menyebabkan stagnasi baik dalam pertumbuhan rohani maupun perkembangan jumlah jemaat. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menelusuri dinamika kehidupan jemaat mula-mula, menafsirkan makna teologis dari pola hidup tersebut, serta menelaah aplikasinya dalam konteks pelayanan jemaat masa kini. Hasil penelitian menunjukkan adanya problematika serius berupa minimnya pemahaman doktrinal, penetrasi gaya hidup sekuler seperti konsumsi minuman keras dan kebiasaan merokok, serta rendahnya komitmen terhadap ibadah dan persekutuan. Kondisi ini berimplikasi pada melemahnya kualitas spiritualitas jemaat serta kurangnya solidaritas komunitas iman. Penelitian ini menekankan pentingnya penghayatan Firman Tuhan dan ketergantungan pada karya Roh Kudus sebagai fondasi utama pembentukan pola hidup rohani. Kontribusi penelitian ini mencakup dua aspek penting: (1) dimensi teologis-konseptual, yakni memperdalam pemahaman terhadap praksis iman jemaat gereja mula-mula yang relevan sepanjang zaman; dan (2) dimensi praktis-kontekstual, yaitu penyajian strategi implementatif bagi jemaat GPdI Sentani Barat dalam menghadapi arus sekularisasi serta membangun kehidupan bergereja yang lebih otentik, alkitabiah, dan transformatif.