Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Matan Keyakinan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah sebagai Kompas Moral: Menuntun Umat Menuju Islam Berkemajuan Navi Agustina; Katni Katni
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Mahasiswa dan Akademisi Vol. 1 No. 6 (2026)
Publisher : Prodi PGSD Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/intelektual.v1i6.575

Abstract

Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) merupakan dokumen ideologis fundamental yang berfungsi sebagai pedoman keagamaan, moral, dan gerakan bagi Muhammadiyah dalam merespons dinamika sosial, politik, dan kultural bangsa Indonesia. Artikel ini bertujuan menganalisis peran MKCH sebagai kompas moral dalam menuntun umat menuju praksis Islam Berkemajuan di tengah tantangan kontemporer seperti disrupsi digital, krisis etika publik, dan ketimpangan sosial. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis dokumen resmi Muhammadiyah, karya pemikiran tokoh, serta artikel ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa MKCH memuat kerangka nilai yang komprehensif, meliputi penegasan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dalam Negara Pancasila, tauhid murni sebagai fondasi moral dan transformasi sosial, Islam sebagai agama sepanjang zaman, manhaj tarjih dan tajdid sebagai metode ijtihad, serta peran kebangsaan Muhammadiyah dalam mewujudkan masyarakat baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. MKCH tidak hanya berfungsi sebagai dokumen normatif, tetapi juga sebagai sumber etika praksis yang membimbing Muhammadiyah dalam membangun amal usaha, memperkuat masyarakat sipil, dan menjalankan politik moral. Dengan demikian, MKCH memiliki relevansi strategis sebagai pedoman ideologis yang menjaga konsistensi identitas Muhammadiyah sekaligus memungkinkan adaptasi kreatif terhadap perubahan zaman, sehingga mampu menghadirkan Islam yang rasional, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan umat dan kemanusiaan universal.
The Story of the Prophet Musa with Father-in-Law, Fir’aun, and Khidir: Psycghological Well Being Welfare Perspektif Navi Agustina; Waharjani
BAYAN: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : PT. Nawa Edukasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67864/bayan.v2i1.95

Abstract

Psychological well-being is a concept that assesses a person's quality of life based on self-acceptance, purpose in life, positive relationships with others, independence, environmental mastery, and personal growth. In this study, the researcher examines the story of the Prophet Moses in three life stages that significantly shaped his psychological well-being: his relationship with his in-laws, his prophetic mission to confront Pharaoh, and his spiritual-cognitive learning process with the Prophet Khidir. This article analyzes how these three major experiences shaped Moses' psychological competence based on Carol Ryff's Psychological Well-Being theoretical framework. Furthermore, this study was also analyzed using classical and contemporary interpretation approaches. The results show that the Prophet Moses possessed all aspects of psychological well-being, but the strongest was the aspect of Life Purpose, followed by Self-Growth, Autonomy, Environmental Mastery, Self-Acceptance, and positive relationships with others. The Prophet Moses' psychological well-being occurred gradually, where his psychological well-being was supported by religiosity and social support, namely family. With the capital of his psychological well-being, Moses managed to overcome the difficult times he faced and succeeded in becoming a strong leader and defender of the oppressed.