Konsumsi digital yang tinggi dapat mengganggu interaksi sosial terkhusus dikalangan remaja. Adapun efek dari konsumsi digital yang tinggi selain mengubah pola interaksi sosial juga mengubah kesehatan mental, kecemasan, dan depresi. Prilaku remaja yang belum stabil ditambah budaya yang masuk akan berakibat culture shock, dimana dampak negatif digitalisasi akan sangat terasa dan berpengaruh terutama dalam kehidupan remaja. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui bagaimana fenomena pola Inteaksi dan konsumsi digital yang tinggi berhubungan Fear of Missing Out (FoMO) Pada Remaja di Sekolah Islam plus Tahfihz Ibnu Umar Ciputat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan 5 sumber informan dengan nilai gejala tertinggi. Teknik yang digunakan adalah observasi, analisis data dengan mengumpulkan data wawancara, penyajian data, penarikan kesimpulan. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Fenomenologi dan interaksionisme simbolik. Penelitian ini menambah panjang penelitian yang menegasakan bahwa FoMO memiliki dampak yang besar dan signifikan terhadap mental remaja. Rasa cemas dan stress akibat dari rasa takut tertinggal informasi dan interaksi sosial dapat mengganggu emosional remaja. FoMO memicu perasaan rendah diri,tidak percaya diri, tidak diakui dan tidak layak. Penggunaan media sosial yang berlebihan mengganggu fokus dan produktivitas, sementara ketergantungan emosional terhadap platform tertentu menyebabkan perasaan cemas dan kehilangan ketika tidak dapat mengaksesnya. FoMO membuat remaja merasa rendah diri ketika tidak mampu mengikuti hal-hal yang sedang hits atau viral entah dalam membeli benda atau kebiasaan – kebiasaan yang sedang bomming disosial media. Hal tersebut membawa prilaku konsumtif dan hedon.