Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Karakteristik Hukum Mad Asli Dan Mad Far’i Dalam Kajian Ilmu Tajwid Heti Sumi Lestari; Neuneu Nurlaela Hasanah; Revika Khoerunnisa; Iin Indriani; Muhamad Ibnu Malik
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 2 (2025): 2025
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v1i2.631

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh signifikansi pemahaman yang komprehensif terhadap hukum bacaan mad, khususnya karakteristik yang membedakan mad asli (mad thabi'i) dan mad far'i, dalam upaya mencapai akurasi, keabsahan, dan keindahan bacaan Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam karakteristik esensial dari kedua jenis mad tersebut melalui pendekatan studi kepustakaan (*library research*), dengan menyintesis temuan dari berbagai literatur primer dan sekunder terkait tahsin Al-Qur’an yang terbit dalam dekade terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa mad asli merupakan fondasi utama dalam ilmu tajwid, dicirikan oleh sebab kemunculannya yang intrinsik (adanya huruf mad), durasi baku sepanjang dua harakat, dan hukum baca yang bersifat wajib. Sementara itu, mad far'i muncul sebagai konsekuensi dari faktor eksternal seperti hamzah, sukun, atau waqaf, sehingga memiliki variasi durasi (mulai dari 2 hingga 6 harakat) dan tingkat kewajiban yang beragam (wajib, jaiz, harus). Kompleksitas mad far'i ini juga erat kaitannya dengan keragaman qiraat dan pertimbangan balaghah. Simpulan penelitian menegaskan bahwa penguasaan konsep mad asli yang solid merupakan prasyarat fundamental sebelum mempelajari ragam dan nuansa mad far'i. Implikasi penelitian ini mengarah pada pentingnya pengembangan materi ajar, kurikulum, dan metodologi pembelajaran tahsin yang lebih sistematis, bertahap, dan mengakomodasi konteks qiraat. Hal ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara kedalaman teori ilmu tajwid yang kaya dengan praktik pembelajarannya di berbagai lembaga pendidikan, sehingga melahirkan generasi penghafal dan pembaca Al-Qur’an yang tidak hanya fasih secara teknis, tetapi juga mendalam dalam penghayatan makna dan keindahan lafaznya. ini juga erat kaitannya dengan keragaman qiraat dan pertimbangan balaghah. Simpulan penelitian menegaskan bahwa penguasaan konsep mad asli yang solid merupakan prasyarat fundamental sebelum mempelajari ragam dan nuansa mad far'i. Implikasi penelitian ini mengarah pada pentingnya pengembangan materi ajar, kurikulum, dan metodologi pembelajaran tahsin yang lebih sistematis, bertahap, dan mengakomodasi konteks qiraat. Hal ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara kedalaman teori ilmu tajwid yang kaya dengan praktik pembelajarannya di berbagai lembaga pendidikan, sehingga melahirkan generasi penghafal dan pembaca Al-Qur’an yang tidak hanya fasih secara teknis, tetapi juga mendalam dalam penghayatan makna dan keindahan lafaznya.