Amalia Rezeki
Study Program of Biology Education, Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, South Kalimantan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The argumentation of the students about plant biodiversity: Quasi-experimental research Luthfiana Nurtamara; Sri Amintarti; Aulia Ajizah; Dewi Amelia Widiyastuti; Noorhidayati Noorhidayati; Amalia Rezeki
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22369

Abstract

Argumentation in science learning is crucial to form scientific explanations supported by strong claims with evidence and explanations. The study used two classes, namely the control class using the discovery learning model, using textbooks from the school, and the experimental group using the STEM PJBL learning model, assisted by teaching modules developed by researchers. The control class consisted of 35 students, and the experimental class consisted of 36 students. The research used a quasi-experimental research method with a posttest-only control design. Post-test results in the control group had an average of 24.28, and the experimental group 50.278. The statistical test used the Mann-Whitney U non-parametric test with a significance value of 0.000, which means that the P-value is less than the 0.05 significance level, so H0 is rejected, so there is a difference in value between the control class and the experimental class on argumentation skills. The results of this research conclude that most students at level 1 are only able to make claims without being supported by data and reasoning. The low level of argumentation is caused by the lack of argumentation training and the lack of conceptual understanding of students, so it is recommended that science teaching be given argumentation training with contextual and constructivist learning models.Abstrak. Argumentasi dalam pembelajaran sains sangat penting untuk membentuk argumentasi ilmiah yang didukung oleh klaim yang kuat dengan bukti dan penjelasan. Penelitian ini menggunakan dua kelas, yaitu kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran discovery learning dengan menggunakan buku teks dari sekolah, dan kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran STEM PJBL dibantu dengan modul pembelajaran yang dikembangkan oleh peneliti. Kelas kontrol terdiri dari 35 siswa dan kelas eksperimen terdiri dari 36 siswa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuasi eksperimen dengan posttest-only control design. Hasil posttest pada kelompok kontrol memiliki rata-rata 24,28, dan kelompok eksperimen 50,278. Uji statistik yang dapat dilakukan adalah uji non parametrik Mann-Whitney U dengan nilai signifikansi 0,000 yang berarti nilai P-value lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05, maka H0 ditolak, sehingga terdapat perbedaan nilai antara kelas kontrol dan kelas eksperimen pada keterampilan argumentasi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa kebanyakan berada di level 1 sehingga peserta didik hanya mampu membuat claim tanpa disertai data dan alasannya. Rendahnya nilai argumentasi disebabkan karena kurangnya pelatihan berargumentasi dan kurangnya penguasan konsep peserta didik, sehingga diharapkan pembelajaran sains diberikan pelatihan berargumentasi dengan model pembelajaran kontekstual dan konstruktivis.
Problem based learning on wetland socioscientific issue: A pathway to enhance scientific literacy and collaborative skill Nurul Hidayati Utami; Kaspul Kaspul; Aminuddin Prahatama Putra; Bunda Halang; Amalia Rezeki
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22143

Abstract

Addressing the demands of 21st-century competencies, this study analyzed the influence of integrating Problem-Based Learning (PBL) with Socio-scientific Issues (SSI) on students' cognitive learning outcomes in Biology and examined its effectiveness in enhancing students' collaboration skills, particularly within the context of South Kalimantan's wetland ecosystems. Employing a quasi-experimental pretest-posttest design involving 120 students from MAN 2 and SMA 11 Banjarmasin, data were collected using validated instruments. Results from the Wilcoxon Signed-Rank test indicated a significant improvement in scientific literacy (p < 0.001), while the Mann-Whitney U test revealed a significant enhancement in collaboration skills (p < 0.001) within the PBL-SSI group compared to direct instruction. These findings affirm that PBL-SSI effectively addresses the limitations of traditional models in developing essential 21st-century competencies. This approach specifically fosters active learning, teamwork, and concurrently enhances student engagement and environmental awareness. It is concluded that integrating SSI into PBL creates a more meaningful and impactful learning experience, equipping students to tackle complex socio-scientific problems in the future.Abstrak. Menjawab tuntutan kompetensi abad ke-21, penelitian ini menganalisis pengaruh integrasi Problem-Based Learning (PBL) dengan Socio-scientific Issues (SSI) terhadap hasil belajar kognitif siswa dalam Biologi dan menguji efektivitasnya dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa, khususnya dalam konteks ekosistem lahan basah Kalimantan Selatan. Menggunakan desain kuasi-eksperimen pretest-posttest dengan 120 siswa dari MAN 2 dan SMA 11 Banjarmasin, data dikumpulkan melalui instrumen tervalidasi. Hasil uji Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan peningkatan signifikan pada literasi sains (p < 0.001), sementara uji Mann-Whitney U mengindikasikan peningkatan signifikan pada keterampilan kolaborasi (p < 0.001) dalam kelompok PBL-SSI dibandingkan instruksi langsung. Temuan ini menegaskan bahwa PBL-SSI secara efektif mengatasi keterbatasan model tradisional dalam mengembangkan kompetensi abad ke-21. Pendekatan ini secara spesifik mendorong pembelajaran aktif, kerja tim, serta meningkatkan keterlibatan siswa dan kesadaran lingkungan. Disimpulkan bahwa integrasi SSI ke dalam PBL menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan berdampak, menyiapkan siswa menghadapi masalah sosio-ilmiah kompleks di masa depan.