Amnita Ginting
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Santa Elisabeth

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan pada Anak Usia Prasekolah di Ruang St. Theresia Rumah Sakit Elisabeth Medan Tahun 2024 Rotua Elvina Pakpahan; Amnita Ginting; Erti Hidayat Zebua
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2025): November: Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v5i3.6263

Abstract

Children commonly experience anxiety during hospitalization, especially when they are unfamiliar with the clinical environment. Therapeutic communication serves as an essential nursing skill that can reduce this anxiety and help young patients feel more secure. This study examines the relationship between nurses’ therapeutic communication abilities and the anxiety levels of hospitalized preschool children. Using a quantitative cross-sectional design, the research involved 48 participants selected through complete sampling, with data collected using structured questionnaires. Therapeutic communication was measured using a nurse communication assessment tool, while the Spence Children’s Anxiety Scale (SCAS) Preschool version was used to evaluate anxiety levels. The findings revealed that 22 respondents (45.8%) perceived nurses’ therapeutic communication as very poor, and 18 children (37.5%) showed moderate anxiety. Statistical analysis using the Spearman rank correlation test produced a p-value of 0.002 (p < 0.05), demonstrating a significant negative relationship between nurses’ therapeutic communication and anxiety levels among preschoolers at Santa Elisabeth Hospital Medan in 2024, with a correlation coefficient of 0.440. These results suggest that implementing structured training programs in therapeutic communication could enhance nurses’ ability to provide supportive and anxiety-reducing care for young patients.
Gambaran Dukungan Suami Dalam Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi 0-6 Bulan Di Puskesmas Glugur Darat Kecamatan Medan Timur Tahun 2024 Helinida Saragih; Amnita Ginting; Rahel Ragil Sutrisno
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air susu ibu eksklusif merupakan nutrisi esensial untuk bayi usia 0-6 bulan yang sangat krusial dalam mendukung tumbuh kembang optimal pada 1000 hari pertama kehidupan. Data WHO tahun 2022 menunjukkan hanya 44% bayi menerima ASI eksklusif secara global, sementara di Indonesia berdasarkan RISKESDAS 2021 tercatat 52,5% bayi mendapat ASI eksklusif. Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan cakupan dari 57,83% tahun 2021 menjadi 57,71% tahun 2022. Dukungan suami merupakan faktor eksternal paling signifikan mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif karena berdampak pada kondisi emosi ibu yang secara tidak langsung mempengaruhi 80% produksi ASI melalui hormon oksitosin. Penelitian sebelumnya menunjukkan 56,8%-60,4% ibu tidak mendapatkan dukungan suami akibat kurangnya pengetahuan, persepsi negatif terhadap menyusui, dan budaya patriarki. Di Puskesmas Glugur Darat Kecamatan Medan Timur terdapat 234 ibu dengan bayi usia 6-24 bulan periode Januari-Juli 2024, namun belum ada data spesifik mengenai gambaran dukungan suami dalam pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran dukungan suami dalam pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan di Puskesmas Glugur Darat Kecamatan Medan Timur tahun 2024 untuk memberikan informasi penting bagi pengembangan strategi peningkatan keberhasilan program ASI eksklusif melalui optimalisasi peran suami. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Populasi penelitian adalah 234 ibu dengan bayi usia 6-24 bulan, dengan sampel sebanyak 105 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dukungan suami terdiri dari 24 pernyataan mencakup lima dimensi: pengetahuan, bantuan, apresiasi, kehadiran, dan responsivitas dengan skala Likert dan kategorisasi tinggi, sedang, dan rendah. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif univariat. Hasil penelitian menunjukkan dukungan suami berada pada kategori sangat tinggi di seluruh dimensi dengan rincian: kehadiran 92,4%, responsivitas 91,4%, apresiasi 89,5%, bantuan 88,6%, dan pengetahuan 81,0%. Karakteristik demografi menunjukkan mayoritas ibu berusia 20-44 tahun (95,2%), berpendidikan SMA/SMK (61,9%), tidak bekerja (71,4%), dengan suami berusia 20-44 tahun (95,2%), berpendidikan SMA/STM (56,2%), bekerja (96,2%), dan tinggal dalam keluarga inti (63,8%). Seluruh responden (100%) berhasil memberikan ASI eksklusif. Kesimpulan penelitian menyimpulkan bahwa dukungan suami sangat tinggi di Puskesmas Glugur Darat berkontribusi signifikan terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif, sehingga diperlukan program penyuluhan berkelanjutan untuk mempertahankan dan meningkatkan dukungan suami melalui edukasi pentingnya peran aktif suami, penguatan komunikasi keluarga, dan integrasi keterlibatan suami dalam setiap program kesehatan ibu dan anak.