Perkembangan teknologi digital telah memudahkan akses terhadap konten seksual eksplisit, menjadikan remaja kelompok yang paling rentan terhadap paparan pornografi. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran karena berkaitan dengan risiko adiksi dan dampak psikologis jangka panjang, terutama dalam konteks perilaku masturbasi yang kerap menyertainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman subjektif remaja yang mengalami adiksi pornografi dan masturbasi, serta dinamika psikologis yang melingkupinya. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, dua partisipan remaja (laki-laki dan perempuan) berusia 18-19 tahun diwawancarai secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterpaparan pornografi terjadi ketika partisipan berada di rentang anak dan remaja awal yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, terutama teman sebaya, serta kemudahan akses melalui media digital. Konsumsi pornografi dan masturbasi berfungsi sebagai pelampiasan dari stres dan emosi negatif, namun memunculkan dampak psikologis seperti rasa bersalah, gelisah, dan perubahan persepsi terhadap lawan jenis. Temuan ini menunjukkan adanya pola adiktif yang dipengaruhi oleh mekanisme coping disfungsional dan ketidakmampuan regulasi diri. Penelitian ini memperkaya pemahaman teoritis tentang dinamika psikologis remaja dalam adiksi pornografi dan masturbasi melalui pendekatan fenomenologis yang menyoroti konflik internal, regulasi diri, dan respons terhadap isyarat seksual. Secara praktis, temuan ini menjadi dasar bagi intervensi yang empatik dan kontekstual, serta membantu pendidik dan orang tua mengenali perilaku adiktif.