Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Teori KIPAS dalam Layanan Bimbingan dan Konseling Multibudaya: Sebuah Kajian Literatur Agung Nugroho; Mochammad Mastukin; Ari Kusuma Dewi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1099

Abstract

Masyarakat global yang semakin heterogen menuntut layanan Bimbingan dan Konseling (BK) yang lebih inklusif, adaptif, dan responsif terhadap perbedaan budaya. Keberagaman latar belakang etnis, agama, nilai, dan norma siswa menempatkan kompetensi multikultural sebagai aspek penting dalam praktik konseling. Namun, pendekatan konvensional yang masih dominan belum sepenuhnya mampu menjawab kompleksitas tersebut. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis relevansi Teori KIPAS (Konseling Intensif, Progresif, dan Struktur) sebagai pendekatan alternatif dalam layanan BK multikultural melalui studi literatur. Metode yang digunakan adalah studi literatur kualitatif deskriptif terhadap berbagai sumber ilmiah terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa prinsip intensif, progresif, dan struktur dalam Teori KIPAS mendukung praktik konseling yang responsif terhadap keberagaman budaya. Pendekatan ini memperkuat peran konselor sebagai fasilitator yang empatik dan terbuka terhadap nilai-nilai budaya yang beragam. Teori KIPAS relevan dan aplikatif dalam mengembangkan layanan BK multibudaya di lingkungan pendidikan. Penelitian lanjutan disarankan untuk menguji efektivitas dan pengembangan model praktiknya.
Relevansi dan Tantangan Konseling Realita dalam Layanan Bimbingan Multikultural: Tinjauan Literatur Agung Nugroho; Budi Purwoko; Bakhrudin Habsy
JURNAL PENA EDUKASI Vol. 12 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jpe.v12i2.3367

Abstract

Abstract: Reality Counseling is one of the key approaches in guidance and counseling that emphasizes personal responsibility, conscious choice, and concrete actions to fulfill individuals’ basic psychological needs. This study aims to explore the fundamental concepts of Reality Counseling, examine its relevance in contemporary counseling practices, and identify the challenges of its implementation in multicultural contexts. The research employed a literature review method by analyzing scholarly sources, including journals, books, and conference proceedings published within the last five years. The findings indicate that Reality Counseling effectively enhances clients’ self-awareness, decision-making ability, and sense of personal responsibility. However, its application faces several obstacles, particularly cultural value differences, social norms, and clients’ readiness to accept personal accountability. Therefore, counselors are expected to develop cultural sensitivity, intercultural communication skills, and adaptive intervention strategies that align with the unique characteristics of their clients. Overall, this study affirms that Reality Counseling remains relevant in multicultural counseling services when applied contextually, flexibly, and supported by the counselor’s multicultural competence.Keywords: reality counseling, responsibility, multicultural, guidance and counselingAbstrak: Konseling Realita merupakan salah satu pendekatan penting dalam bidang bimbingan dan konseling yang berfokus pada tanggung jawab pribadi, pilihan sadar, serta tindakan nyata untuk memenuhi kebutuhan dasar psikologis individu. Kajian ini bertujuan menelusuri konsep dasar Konseling Realita, meninjau relevansinya dalam praktik konseling masa kini, serta mengidentifikasi tantangan penerapannya pada konteks masyarakat yang beragam secara budaya. Penelitian dilakukan melalui studi pustaka dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah, seperti jurnal, buku, dan prosiding yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir. Hasil telaah menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu membantu konseli meningkatkan kesadaran diri, mengambil keputusan secara lebih rasional, serta mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap pilihan hidupnya. Meski demikian, praktik konseling ini tidak terlepas dari hambatan, terutama perbedaan nilai budaya, norma sosial, dan kesiapan konseli dalam menerima tanggung jawab pribadi. Oleh karena itu, konselor dituntut memiliki sensitivitas budaya, keterampilan komunikasi lintas budaya, serta kemampuan menyesuaikan strategi intervensi agar sesuai dengan karakteristik masing-masing konseli. Secara keseluruhan, kajian ini menegaskan bahwa Konseling Realita tetap relevan di tengah keberagaman budaya, asalkan diterapkan secara kontekstual, fleksibel, dan didukung oleh kompetensi multikultural yang memadai dari konselor.Kata Kunci: konseling realita, tanggung jawab, multikultural, bimbingan dan konseling