Perkembangan teknologi yang pesat telah membawa manfaat signifikan bagi organisasi dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Namun, adopsi teknologi juga menyebabkan tantangan psikologis yang dikenal sebagai technostress, yang dapat berdampak negatif pada individu maupun organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji determinan technostress serta implikasinya terhadap kinerja organisasi dengan menggunakan metode literature review.Hasil penelitian menunjukkan bahwa technostress dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk techno-overload, techno-complexity, techno-insecurity, techno-uncertainty, dan techno-invasion. Faktor-faktor ini berkontribusi terhadap peningkatan beban kerja, kesulitan dalam memahami teknologi yang kompleks, ketidakamanan kerja akibat otomatisasi, serta ketidakpastian dalam menghadapi perubahan teknologi yang cepat. Selain itu, gangguan teknologi yang mengaburkan batas antara kehidupan profesional dan pribadi juga memperparah tingkat stres individu. Dampak dari technostress terhadap organisasi mencakup penurunan motivasi karyawan, peningkatan resistensi terhadap perubahan teknologi, serta berkurangnya produktivitas dan inovasi. Untuk mengatasi technostress, penelitian ini mengusulkan tiga strategi utama: strategi organisasi, yang mencakup pelatihan teknologi dan kebijakan kerja fleksibel; strategi desain teknologi, yang berfokus pada pengembangan sistem yang lebih ramah pengguna dan pengelolaan gangguan digital; serta mekanisme koping individu, yang melibatkan peningkatan literasi digital, pengelolaan stres, dan digital detox. Implikasi dari penelitian ini memberikan wawasan bagi akademisi dan praktisi dalam merancang kebijakan yang lebih adaptif untuk menghadapi tantangan digitalisasi, sehingga dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif.