Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola distribusi kadar glukosa darah acak serta korelasinya dengan variabel demografis, khususnya usia dan jenis kelamin, pada pasien diabetes melitus di Puskesmas Seubadeh, Kabupaten Aceh Selatan, Indonesia. Dengan menggunakan metode kuantitatif melalui pendekatan deskriptif-analitik dan retrospektif, penelitian ini memanfaatkan data sekunder dari 106 individu yang didiagnosis menderita diabetes melitus antara bulan Agustus hingga Desember tahun 2024. Nilai glukosa darah acak dikategorikan menjadi terkendali (<200 mg/dL) dan tidak terkendali (≥200 mg/dL). Berdasarkan data, sebanyak 86,79% pasien memiliki kadar glukosa darah yang tidak terkendali, dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan (66,03%) dan berada dalam rentang usia 40–59 tahun (72,64%). Meskipun jumlah pasien laki-laki lebih sedikit secara keseluruhan, mereka justru memiliki proporsi yang lebih besar dalam kategori kadar glukosa darah yang terkendali, yang merupakan temuan menarik. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin dalam pengelolaan kadar glukosa darah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kelompok demografis yang paling terdampak adalah perempuan dan individu usia produktif, sehingga menekankan perlunya intervensi yang peka terhadap usia dan gender. Pentingnya strategi pengelolaan diabetes yang komprehensif di tingkat pelayanan kesehatan primer turut disoroti, mengingat pengaruh faktor-faktor seperti perbedaan hormonal, tingkat stres, aktivitas fisik, dan pola gaya hidup terhadap pengendalian kadar glukosa darah.