Pertumbuhan wilayah perkotaan yang pesat di Kota Surabaya telah menyebabkan terjadinya perubahan tutupan lahan yang signifikan, khususnya pada area vegetatif. Urbanisasi yang tidak terkendali memicu alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan terbangun, seperti permukiman, kawasan industri, dan infrastruktur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji perubahan pada indeks kerapatan vegetasi menggunakan pendekatan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) menggunakan data citra satelit Landsat 8 yang dianalisis melalui Sistem Informasi Geografis (SIG) pada tahun 2015 dan 2025. Analisis dilakukan dengan melakukan klasifikasi nilai NDVI dalam empat kategori: non-vegetasi (-1,00 - 0,00), vegetasi rendah (0,0–0,25), sedang (0,25–0,5), dan tinggi (> 0,5). Hasil analisis menunjukkan bahwa klasifikasi vegetasi rendah (NDVI 0,0–0,25) mengalami peningkatan dari 1.009,62 Ha (53,44%) pada tahun 2015 menjadi 18.908,64 Ha (57,57%) pada tahun 2025. Sebaliknya, vegetasi tinggi (NDVI > 0,5) mengalami penurunan dari 3.646,98 Ha (11,10%) menjadi 3.397,86 Ha (10,35%). Penurunan tersebut mengindikasikan terjadinya degradasi lingkungan yang signifikan akibat berkurangnya area hijau. Hasil validasi lapangan menunjukkan tingkat akurasi klasifikasi NDVI cukup tinggi dan sesuai dengan kondisi tutupan lahan aktual. Perubahan ini mengindikasikan adanya peralihan fungsi lahan secara besar-besaran dari lahan vegetatif menjadi kawasan terbangun seperti permukiman dan industri. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan di Surabaya telah berdampak langsung terhadap penurunan kualitas lingkungan, termasuk meningkatnya suhu udara permukaan. Penurunan tutupan vegetasi secara langsung berdampak pada meningkatnya suhu udara dan memperburuk kondisi lingkungan perkotaan. Oleh karena itu, hasil studi ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dan perencana tata ruang dalam merumuskan kebijakan perlindungan area hijau publik dan pengendalian konversi lahan yang berkelanjutan di Kota Surabaya.